Jumat, 21 September 2012

Memilih Majoring

Setelah melalui 4 minggu matrikulasi yang melelahkan, akhirnya saya mendapatkan juga titik terang itu. Alhamdulillah. Kegalauan yang tadinya saya pikir akan berumur panjang paling tidak sampai akhir semester, ternyata Allah takdirkan untuk menemukan jalannya pekan ini. galau itu bernama: memilih majoring. Alias peminatan utama dalam magister profesi psikologi.

Saya galau tingkat dewa. Bagaimana tidak, dimasa perkuliahan s2 ini akhirnya saya benar-benar dibenturkan dengan berbagai pilihan yang sebelumnya ketika s1 dulu tidak pernah saya alami. Waktu s1 dulu saya sangat enjoy belajar psikologi. Peminatan yang saya ambil pun klinis, yang konon katanya serem dan ditakuti sebagian besar mahasiswa psikologi. Tapi saya benar-benar enjoy dengan itu. Salah satu penyebabnya barangkali karena klinis yang saya pelajari belum mendalam jadi saya tidak harus berhadapan dengan berbagai macam teori yang secara hati nurani engga saya banget. Saya tidak harus belajar mendalam tentang sesuatu yang hati saya menolaknya secara prinsip. Begitulah.

Tapi ketika s2, yang dipelajari jauh berbeda, Saya langsung mendadak merasa salah ambil jurusan. Udah muak aja itu bawaannya. Kalau pagi ke kampus hanya untuk berharap bisa pulang cepat siangnya. Sama sekali tidak mencerminkan mahasiswa teladan jaman s1 dulu =D

Selama 4 minggu matrikulasi saya banyak berdialog dengan diri sendiri. Saya coba sekerasnya melibatkan Allah dalam proses pengambilan keputusan. Majoring apakah yang harus saya pilih? Majoring apakah yang nantinya akan punya efek paling besar untuk mensupport saya dalam kehidupan sehari-hari? Dalam cita-cita saya kelak? Duuh Allah, gini banget ya rasanya galau.. Milih majoring aja bingung begini, apalagi milih jodoh.. *kode =D

Kalau klinis, saya tidak nyaman dengan teori-teorinya, dengan kondisi kerjanya kelak. Saya juga galau kalau nanti lulusnya lama. Karena klinis, baik itu klinis dewasa ataupun klinis anak, berpotensi lama lulus. Saya mikir-mikir juga, karena faktor umur lama-lama makin menua dan kondisi kantong tidak lagi seperti dulu ketika mama masih ada.

Kalau PIO, saya kurang berhasrat disana. Itu bukan bidang saya sejak s1 dulu. Saya juga belum pernah punya pengalaman di bidang PIO. Memilih PIO mungkin efeknya adalah kuliah lebih santai dibanding klinis dan insya Allah lebih cepat lulus. Ruang lingkup kerjanya juga lebih bonafid. Udah kebayang deh jadi menejer HRD yang ke kantor pakai blazar, hehe. Tapi itu kurang bersesuaian dengan cita-cita saya dimasa depan: jadi ibu rumah tangga yang bekerja di rumah, cerdas dan sholihah *kode lagi.

Kalau eksperimen atau kerekayasaan, waduuuu, otak saya menolak statistik habis-habisan! Coret itu dari list. Sempat kepikiran juga untuk ambil minoring eksperimen. Minoring lho ya bukan majoring. Tapi ada info kalau Unpad tidak ada program minoringnya. Wallahu 'alam.

Pilihan yang cukup relevan kemudian adalah sosial dan pendidikan. Pilihan yang tidak muncul sebelumnya dalam benak saya. Baru muncul 2 malam lalu waktu saya bolos matrikulasi dengan alasan sakit (iyah kok, sakit.. Jiwanya yang lagi sakit). Mendadak aja dengan izin Allah saya tergerak untuk mengambil buku di rak buku saya. Judulnya Psikologi Islami. Tulisan Dr. Jamaludin Ancok dan Fuat Nashori. Asli, saya bahkan lupa kalau punya buku itu. Subhanallah..., Allah gerakkan untuk mengambil buku itu diselip-selipan buku. Yang kemudian akhirnya jadi jalan saya untuk memantapkan hati memilih majoring psikologi sosial.

Jika kamu kelak ingin bekerja di masyarakat luas, mengedukasi orang-orang, jadi pedagang, bikin sekolah, LSM, dan lain-lain yang berhubungan dengan banyak orang, psikologi sosial adalah pilihan yang insya Allah tepat. Menyentuh lapisan masyarakat yang jauh lebih banyak dibanding klinis atau PIO, misalkan. Dan saya suka sekali. Saya terkagum-kagum dengan cara Allah menyadarkan saya tentang pilihan itu, dan cara Allah membuat saya mendadak cinta dengan sosial. Alhamdulillah..

Maka kemarin ketika mendadak pengurus majoring memberikan dua lembar kertas peminatan yang harus kami isi, saya pun dengan hati ringan menuliskan nama saya pada kolom Psikologi Sosial. Sedihnya, cuma 2 orang yang menulis di situ. Hiks. Saya dan si Risa. Lebih banyak yang memilih klinis anak, klinis dewasa, dan PIO. Ini bikin deg-degan juga. Karena kalau peminatnya kurang dari 5 orang, kelas sosial tidak akan dibuka. Saya jadi ancang-ancang ambil pilihan kedua: psikologi pendidikan. Ini relatif sama dengan sosial hanya ruang lingkupnya lebih spesifik.

Bismillah, semoga Allah memudahkan dan memberikan yang terbaik untuk saya. Aamiin.

Minggu, 16 September 2012

Welcome!

Assalamualaikum :)

Hai, saya Nia. Lengkapnya Alysa Stivanie Kania. Selamat datang di blog saya yang sederhana, tempat saya menulis tentang macam-macam hal. Saya new comer di Blogspot. Awalnya saya ngeblog pakai Multiply, tapi karena Multiply sekarang fokus jualan online, akhirnya saya hijrah ke sini.

Keep writing ya!