Mengapakah di negeri yang ijo royo-royo ini
persoalan bahan pangan masih tetap menjadi problematika tersendiri?
Padahal kita tahu sejauh mata memandang Indonesia punya potensi kekayaan
alam yang luar biasa. Konon katanya di negeri ini bahkan tidak punya
lautan sebab kita dikelilingi kolam susu, tongkat kayu dan batu bisa
jadi tanaman. Lalu mengapa kerap terdengar musibah kelaparan melanda
salah satu daerah? Mengapa ada keluarga
yang tidak sanggup beli beras lantas makan nasi aking? Sedang sebagian
daerah lainnya terkenal sebagai penghasil padi kualitas terbaik.
Konon katanya di suatu daerah di Kalimantan pernah panen padi banyak
sekali. Saking banyaknya hasil panen tersebut tidak bisa diserap
sepenuhnya oleh penduduk daerah itu. Akhirnya padi-padi tersebut
menumpuk di gudang bulog sampai kemudian rusak dan busuk. Merugilah
petani penghasil panen raya itu. Lalu tersebutlah suatu daerah di Nusa
Tenggara sebagai daerah rawan pangan. Anak-anak lahir kurang gizi, tidak
lama kemudian mati. Sementara sebagian orang di Papua, sekali makan
menunya adalah cumi-cumi, ikan segar, kepiting dan udang.
Mungkin problemnya ada pada ketidakmerataan substitusi kesejahteraan
pada seluruh wilayah negara Indonesia. Sebab memang ada wilayah-wilayah
tertentu yang tidak dapat memenuhi sendiri kebutuhan pangannya sehingga
perlu dipenuhi oleh daerah lain. Bisa jadi itu karena bentang alam atau
faktor alamiah lainnya. Maka konsep subtitusi pada hal ini menjadi
sederhana sekali sesederhana apa yang Qur'an kita perintahkan agar kita
saling kenal-mengenal (lita'arofu). Agar kesejahteraan itu tidak hanya
menjadi milik segelintir orang, agar kita tahu bagaimana kondisi orang
di tempat lain sehingga bisa terjadi hubungan yang saling menguntungkan
baik itu untuk perkembangan ilmu pengetahuan, perekonomian, perdagangan,
bahan pangan, maupun hal lainnya *maafkan keterbatasan saya memahami
perintah Qur'an yang ini, mohon koreksi jika keliru :)
Faktanya
adalah transportasi masih menjadi sesuatu yang tidak mudah di negeri
ini. Tidak mudah dan tentu saja tidak murah. Padahal transportasi yang
dapat menghubungkan berbagai daerah mutlak diperlukan agar substitusi
kesejahteraan itu menjadi bisa dilakukan. Agar hasil panen padi dari
Kalimantan misalnya, bisa didistribusikan ke Gunung Kidul Yogyakarta.
Agar ikan-ikan segar nan melimpah di Papua sana, bisa meningkatkan
konsumsi protein anak-anak Nusa Tenggara. Dengan ini bayangkan betapa
pesatnya ekonomi negara kita bisa berkembang karena harta, barang
dagangan, dan bahan pangan itu beredar melalui sektor riil dan bukannya
di pasar-pasar saham yang tidak nyata.
Kalau sudah begini,
nampaknya saya kepingin setuju dengan pikiran pak Habibie yang tentang
menyatukan 17.000 pulau di Indonesia ini dengan "truk terbang"nya dan
kapal lautnya :)