Rabu, 30 Januari 2013

Substitusi Kesejahteraan

Mengapakah di negeri yang ijo royo-royo ini persoalan bahan pangan masih tetap menjadi problematika tersendiri? Padahal kita tahu sejauh mata memandang Indonesia punya potensi kekayaan alam yang luar biasa. Konon katanya di negeri ini bahkan tidak punya lautan sebab kita dikelilingi kolam susu, tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Lalu mengapa kerap terdengar musibah kelaparan melanda salah satu daerah? Mengapa ada keluarga yang tidak sanggup beli beras lantas makan nasi aking? Sedang sebagian daerah lainnya terkenal sebagai penghasil padi kualitas terbaik.

Konon katanya di suatu daerah di Kalimantan pernah panen padi banyak sekali. Saking banyaknya hasil panen tersebut tidak bisa diserap sepenuhnya oleh penduduk daerah itu. Akhirnya padi-padi tersebut menumpuk di gudang bulog sampai kemudian rusak dan busuk. Merugilah petani penghasil panen raya itu. Lalu tersebutlah suatu daerah di Nusa Tenggara sebagai daerah rawan pangan. Anak-anak lahir kurang gizi, tidak lama kemudian mati. Sementara sebagian orang di Papua, sekali makan menunya adalah cumi-cumi, ikan segar, kepiting dan udang.

Mungkin problemnya ada pada ketidakmerataan substitusi kesejahteraan pada seluruh wilayah negara Indonesia. Sebab memang ada wilayah-wilayah tertentu yang tidak dapat memenuhi sendiri kebutuhan pangannya sehingga perlu dipenuhi oleh daerah lain. Bisa jadi itu karena bentang alam atau faktor alamiah lainnya. Maka konsep subtitusi pada hal ini menjadi sederhana sekali sesederhana apa yang Qur'an kita perintahkan agar kita saling kenal-mengenal (lita'arofu). Agar kesejahteraan itu tidak hanya menjadi milik segelintir orang, agar kita tahu bagaimana kondisi orang di tempat lain sehingga bisa terjadi hubungan yang saling menguntungkan baik itu untuk perkembangan ilmu pengetahuan, perekonomian, perdagangan, bahan pangan, maupun hal lainnya *maafkan keterbatasan saya memahami perintah Qur'an yang ini, mohon koreksi jika keliru :)

Faktanya adalah transportasi masih menjadi sesuatu yang tidak mudah di negeri ini. Tidak mudah dan tentu saja tidak murah. Padahal transportasi yang dapat menghubungkan berbagai daerah mutlak diperlukan agar substitusi kesejahteraan itu menjadi bisa dilakukan. Agar hasil panen padi dari Kalimantan misalnya, bisa didistribusikan ke Gunung Kidul Yogyakarta. Agar ikan-ikan segar nan melimpah di Papua sana, bisa meningkatkan konsumsi protein anak-anak Nusa Tenggara. Dengan ini bayangkan betapa pesatnya ekonomi negara kita bisa berkembang karena harta, barang dagangan, dan bahan pangan itu beredar melalui sektor riil dan bukannya di pasar-pasar saham yang tidak nyata.

Kalau sudah begini, nampaknya saya kepingin setuju dengan pikiran pak Habibie yang tentang menyatukan 17.000 pulau di Indonesia ini dengan "truk terbang"nya dan kapal lautnya :)