Saya tertegun magrib
tadi dengan satu kesadaran penting: hey, I’m 25 now… Lalu mendadak melow karena
teringat sebuah note yang pernah saya posting di facebook tahun lalu. Judulnya
23 tahun 2 bulan 20 hari. Tulisan tentang kepergian mama. Ada yang
mendesak-desak mau keluar dari sudut mata saya. Ada rindu dan pilu yang setahun
lebih ini sudah saya akrabi. Apakah sudah pernah saya bilang kalau saya ini
cengeng?
Saya engga pernah suka
dengan tanggal 7 november. Hari-hari menjelang kedatangan tanggal 7 november
biasanya saya hadapi dengan gundah gulana. Tanggal itu selalu mengingatkan saya
tentang berlalunya waktu. Tentang bermanfaat atau tidak usia yang ada. Tentang
keberkahan umur. Tentang apa saja yang sudah saya lakukan dengan titipan usia ini.
Terlebih sejak mama pergi. Saya makin engga suka bulan november. Karena tanggal
6 november adalah hari lahir adik saya, 7 november hari lahir saya, dan 8
november adalah hari pernikahan mama dan papa. Tidak adanya satu orang yang
biasanya keberadaannya selalu melengkapi perayaan kami di bulan november, membuat
saya inginnya bulan itu engga usah datang saja.
Saya sadar saya menua…
25 tahun itu artinya
seperempat abad. Dengan alaynya saya barusan mengecek muka ke cermin.
Mencari-cari apakah ada kerutan disana. Dan thank’s God saya harus sujud
syukur, tidak ada kerutan di muka saya. Hehe. Tidak ada uban juga yang nekad
nyelip di rambut saya. Alhamdulillah.. Saya memang menua. Tapi setidaknya saya
menua dengan cantik :p
Saya ingat 5 tahun lalu
waktu tanggal 7 november datang mengantarkan usia saya yang ke 20, saya
menuliskan kalimat pendek di buku catatan kajian saya: selamat datang di dunia
orang dewasa. Sekarang 7 november datang lagi mengantarkan usia yang ke 25 dan
saya harus merenungi lagi tulisan di buku kajian itu.. Benarkah saya sudah
mendewasa..?
Umur 25 bagi saya saat
ini agak sulit dimaknakan. Dulu saya pernah punya cita-cita. Umur segini harus
begini, umur segitu sudah begitu, dan lain-lain. Saya bikin peta hidup waktu pertama masuk kuliah 7 setengah tahun lalu. Efek
baca cerita tentang peta hidupnya Fahri di novel Ayat-Ayat Cinta dan ikut
berbagai training motivasi khusus mahasiswa baru. Yah you know lah bagaimana
pikiran remaja alay yang baru kenal ghiroh. Ingin ini ingin itu banyak sekali. Kalau
bisa rasanya mau deh jadi sekjen PBB saat itu juga. Demi kemaslahatan dunia
seisinya. Hehe.
Tapi kemudian waktu
berjalan dan saya tahu ada hal-hal yang memang harus berjalan engga sesuai apa
yang saya inginkan. Semata karena saya memang harus belajar dari itu semua.
Dulu impian saya adalah
jadi dosen di usia 24. Tapi takdirnya, saya sudah 25 dan masih semester 3. Dulu
cita-cita saya menikah sebelum 24. Dan takdirnya, sekarang 25 dan saya masih
betah aja hidup sendirian. Banyak rencana hidup saya yang bermuara di umur 24.
Ini itu maunya 24. Entah kenapa dulu menurut saya 24 itu umur yang keren sekali
untuk jadi “seseorang”. Muda, beda dan berbahaya *halah. Tapi look at me now,
I’m 25 and there’s a lot of things in my life yang berjalan engga sesuai rencana
saya…
Saya bisa menghabiskan
waktu berjam-jam mengeluhkan banyak hal dalam hidup akhir-akhir ini. Salah satunya
kuliah, haha. Kalian tahu, selama setahun kuliah saya belum pernah dapat nilai
A! Dan saya harus mengulang mata kuliah statistik semester ini, huft.
Kadang kalau lagi alay,
saya suka hopeless sendiri. Bisa engga yah saya jadi “seseorang” yang saya
rencanakan itu… Kenapa kok banyak hal yang beda dengan rencana saya dulu…
Berhubung saya adalah orang yang rada labil, ketika sesuatu berjalan engga
sesuai rencana, saya akan kebingungan. Maka saya harus buat rencana kedua. Plan
A plan B. Begitulah yang diajarkan training-training motivasi dulu.
Tapi kemudian kuliah S2
di Bandung mendekatkan saya dengan Daarut Tauhid. Aa’ Gym selalu bilang kalau
setiap takdir kita itu sudah dengan ijin Allah. Kalau Allah ga ngijinin, ga
bakal jadi, demikian juga sebaliknya. Jadi orang itu yang anteng saja hidup di
dunia ini. Yang lurus, yang bersih. Yang dekat sama Allah. Jangan suka
mengharapkan kedudukan di mata makhluk. Tanyakan pada diri, apa tujuan
sebenarnya ketika melakukan sesuatu. Untuk Allah sajakah? Atau untuk yang
lainnya? Kalau semuanya kita serahkan pada Allah, mudah hidup kita. Ga gampang
nyesek menjalani hidup. Gitu kata aa’. Saya mengimaninya. Dari situlah saya
dapat plan B saya: percaya pada setiap takdirNya.
Saya percaya yang
terbaik bagi saya adalah kuliah di Bandung, di kampus “itu”. Walaupun saya
belum lihat dimana sisi baiknya. Saya percaya yang terbaik bagi saya adalah
jauh dari teman-teman terhebat di Malang, walaupun saya lagi-lagi belum lihat
sisi baiknya. Saya percaya yang terbaik bagi saya adalah melanjutkan hidup
tanpa mama, walaupun saya, ah, masih belum lihat dimana sisi baiknya. Dan saya
percaya yang terbaik bagi saya adalah kamu, walaupun saya engga tahu siapa kamu
dan kita belum pernah ketemu...
Saya harus menjalani
usia 25 ini sebaik-baiknya. Saya harus tetap semangat! Saya akan tetap
berencana dan berusaha keras menjalankan rencana-rencana itu. Toh saya masih
belum punya kerutan di muka, haha. Dan masih belum ada uban di kepala. Tapi
sekalipun kelak berkerut dan beruban, saya yakin saya masih akan tetap cantik.