Rabu, 27 Februari 2013

Meracau




Saya sedang dilanda malas tingkat dewa. Ini sudah berlangsung berbulan-bulan sejak resmi diterima jadi mahasiswa magister profesi sekitar satu semester lalu. Puncaknya adalah minggu ini. Tugas bejibun tapi saya tetap ga tergerak untuk menyelesaikannya. Ibarat pepatah, mati segan hidup tak mau (apa hubungannya?)

Siang ini seharusnya saya di kelas, menonton teman-teman role play tentang kemahadahsyatan konseling kelompok. Tapi saya malah kabur dan nongkrong di perpus fakultas laksana mahasiswa rajin lainnya. Padahal sebenernya engga. Saya cuma mencari tempat yang lebih leluasa untuk buka internet dan jalan-jalan di dunia maya. Alasan saya ke teman sebelah bangku: “mau ngerjain terjemahan filsafat.”

Mata saya perih bukan main. Antara kepanasan dan dehidrasi. Kayaknya sih dehidrasi. Udara Jatinangor hari ini gerah-gerah gimana gitu. Beberapa kali saya pejamkan mata biar adem dikit, nyatanya bola mata saya rasanya kayak mau terbakar.

Mari kita rangkum sedikit tumpukan tugas yang mestinya kelar itu: verbatim praktikum konseling (kliennya ngomong 1 jam dan saya harus ngetik kata per kata sesuai rekaman), terjemahan filsafat (yang membuat seisi kelas mendadak jadi sensi dan suka bilang: kamu ga liat mukaku yang udah filsafati gini?!), usulan penelitian tesis (ah yang benar saja ini dosen-dosen, kita kan belum diajari cara bikin UP), dan ujian mata kuliah yang susul menyusul setiap pekan memenuhi rongga dada (halah). Percayalah kawan, kuliah magister profesi itu tak seindah kelihatannya..

Well saya rindu sekali dengan segudang aktivitas dulu waktu S1. Ada kuliah, ada organisasi. Semuanya berjalan lancar. Dan walaupun saya menghabiskan waktu 10 semester di kampus, saya bisa punya IPK 3,43 dan bisa cukup leluasa meninggalkan kampus dan fakultas karena percaya adik-adik bisa mengelola organisasi kami dengan baik. But look at me now. Dari senin sampai jumat saya kuliah bak anak sekolahan: masuk jam 9 pagi pulang jam 4 sore. Sabtu minggu luntang lantung di kosan, atau kalau beruntung muncul ide jalan ke Bandung. Selebihnya, nothing. I’m nothing now *lemparbukutandadepresi.

Tidak tampakkan di mataku beban 3 ton yang mengganjal itu, kawan-kawan?

Kata salah satu dosen tadi: “time management adalah dampak dari kegagalan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.” Hoolaa mendadak saya insight. Sepertinya saya memang mengalami “kegagalan menyesuaikan diri” yang cukup akut. Karena kerap membanding-bandingkan kondisi disini dengan disana. Tanpa terasa. Dan saya membiakkan virus kegagalan itu tanpa upaya nyata untuk memeranginya. Kata orang psikologi (kata saya sih sebenarnya): menikmati rasa sakit. Orang tipe begini adalah yang paling mungkin kena maag. Tahu maag kan? Bahasa kerennya gastro intestinal psychophyciological disorder (OMG, saya suka banget kata itu!). Itu jenis penyakit yang biasanya ada pada orang-orang yang punya kecenderungan menyakiti diri sendiri atau menikmati kesakitan diri. Kata profesor konseling saya begitu.

Sejak kapan pula saya kena maag? Sejak masuk S2 kayaknya. Tapi belum tahu juga ini maag atau bukan. Yang pasti kalau telat makan perut saya suka nyeri. Sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam hidup saya sebelumnya. Bahkan dimasa-masa ketika saya stres bukan main gara-gara amanah organisasi.

So, belum tampakkan tanda-tanda penderitaan itu di mata kalian, kawan-kawan?

Well okay, lupakan. Saya lagi kepingin menceracau saja. Nulis sembarangan ngalor ngidul sekadar untuk menjaga diri tetap waras di tengah-tengah semua kegilaan ini. Karena konon katanya menulis itu menyembuhkan.