Saya
sedang dilanda malas tingkat dewa. Ini sudah berlangsung berbulan-bulan sejak
resmi diterima jadi mahasiswa magister profesi sekitar satu semester lalu. Puncaknya
adalah minggu ini. Tugas bejibun tapi saya tetap ga tergerak untuk
menyelesaikannya. Ibarat pepatah, mati segan hidup tak mau (apa hubungannya?)
Siang
ini seharusnya saya di kelas, menonton teman-teman role play tentang kemahadahsyatan
konseling kelompok. Tapi saya malah kabur dan nongkrong di perpus fakultas
laksana mahasiswa rajin lainnya. Padahal sebenernya engga. Saya cuma mencari
tempat yang lebih leluasa untuk buka internet dan jalan-jalan di dunia maya. Alasan
saya ke teman sebelah bangku: “mau ngerjain terjemahan filsafat.”
Mata
saya perih bukan main. Antara kepanasan dan dehidrasi. Kayaknya sih dehidrasi. Udara
Jatinangor hari ini gerah-gerah gimana gitu. Beberapa kali saya pejamkan mata
biar adem dikit, nyatanya bola mata saya rasanya kayak mau terbakar.
Mari
kita rangkum sedikit tumpukan tugas yang mestinya kelar itu: verbatim praktikum
konseling (kliennya ngomong 1 jam dan saya harus ngetik kata per kata sesuai
rekaman), terjemahan filsafat (yang membuat seisi kelas mendadak jadi sensi dan
suka bilang: kamu ga liat mukaku yang udah filsafati gini?!), usulan penelitian
tesis (ah yang benar saja ini dosen-dosen, kita kan belum diajari cara bikin
UP), dan ujian mata kuliah yang susul menyusul setiap pekan memenuhi rongga
dada (halah). Percayalah kawan, kuliah magister profesi itu tak seindah
kelihatannya..
Well
saya rindu sekali dengan segudang aktivitas dulu waktu S1. Ada kuliah, ada
organisasi. Semuanya berjalan lancar. Dan walaupun saya menghabiskan waktu 10
semester di kampus, saya bisa punya IPK 3,43 dan bisa cukup leluasa
meninggalkan kampus dan fakultas karena percaya adik-adik bisa mengelola
organisasi kami dengan baik. But look at me now. Dari senin sampai jumat saya
kuliah bak anak sekolahan: masuk jam 9 pagi pulang jam 4 sore. Sabtu minggu
luntang lantung di kosan, atau kalau beruntung muncul ide jalan ke Bandung. Selebihnya,
nothing. I’m nothing now *lemparbukutandadepresi.
Tidak
tampakkan di mataku beban 3 ton yang mengganjal itu, kawan-kawan?
Kata
salah satu dosen tadi: “time management adalah dampak dari kegagalan
menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.” Hoolaa mendadak saya insight. Sepertinya
saya memang mengalami “kegagalan menyesuaikan diri” yang cukup akut. Karena kerap
membanding-bandingkan kondisi disini dengan disana. Tanpa terasa. Dan saya
membiakkan virus kegagalan itu tanpa upaya nyata untuk memeranginya. Kata orang
psikologi (kata saya sih sebenarnya): menikmati rasa sakit. Orang tipe begini
adalah yang paling mungkin kena maag. Tahu maag kan? Bahasa kerennya gastro
intestinal psychophyciological disorder (OMG, saya suka banget kata itu!). Itu
jenis penyakit yang biasanya ada pada orang-orang yang punya kecenderungan
menyakiti diri sendiri atau menikmati kesakitan diri. Kata profesor konseling
saya begitu.
Sejak
kapan pula saya kena maag? Sejak masuk S2 kayaknya. Tapi belum tahu juga ini
maag atau bukan. Yang pasti kalau telat makan perut saya suka nyeri. Sesuatu yang
tidak pernah terjadi dalam hidup saya sebelumnya. Bahkan dimasa-masa ketika
saya stres bukan main gara-gara amanah organisasi.
So,
belum tampakkan tanda-tanda penderitaan itu di mata kalian, kawan-kawan?
Well
okay, lupakan. Saya lagi kepingin menceracau saja. Nulis sembarangan ngalor
ngidul sekadar untuk menjaga diri tetap waras di tengah-tengah semua kegilaan
ini. Karena konon katanya menulis itu menyembuhkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar