Selasa, 16 April 2013

Didi Kempot Adalah Pria Paling Menderita Sedunia (yang kedua adalah Pat Kai)


            Hari selasa mestinya kuliah Organizational Development sampai siang. Masuk jam 9 atau 10 pagi dan baru selesai nanti menjelang ashar. Tapi seperti biasa, sejauh pengamatan saya selama 1 bulan pertama kuliah majoring ini, belum ada sejarahnya kuliah bang Amir lebih dari 2 jam. Akhir-akhir ini beliau memang lumayan sibuk. Harapan saya sih, sering-sering aja kuliahnya cuma 2 jam, hehe. Biar sisanya bisa dipake ngerjain tugas (oya?) atau nonton di Jatos :D

            Oiya, saya belum cerita yah. Finally here I am! Di kelas majoring profesi psikologi sosial. The one and only magister profesi psikologi sosial in this country (aseeek). Bersama 8 pendekar lainnya akan mengarungi bahtera kuliah profesi ini satu setengah tahun kedepan. Yihaa!

            Pembukaan kelas majoring sosial ini penuh perjuangan. Ga mudah karena di Unpad sistemnya kelas majoring baru akan dibuka kalau peminatnya minimal 5 orang. Sedang saya dan si Risa mengawali peminatan ini hanya dengan berdua. Berdua batang kara. Teman sekelas yang jumlahnya 72 orang itu pada nyebar di majoring lainnya. Mayoritas memilih psikologi klinis dewasa. Tapi saya dan Risa keukeuh milih psikologi sosial walaupun saat itu fakultas masih galau. Kalau peminat kurang dari 5 kelasnnya ga akan dibuka dan terpaksalah saya dan Risa harus mempertimbangkan masuk kelas majoring lain. Tidaaak! Tapi alhamdulillah, waktu akhirnya kita tiba pada hari penentuan majoring sekitar 2 bulan lalu, terkumpullah total 9 orang peminat kelas sosial. Kelas bisa dibuka dan once again: here I am! I feel so exited. Alhamdulillah :)

Next time insya Allah saya bakal cerita tentang apa itu psikologi sosial dan kenapa saya harus sudi tertarik dengannya :) Sekarang saya mau cerita tentang kejadian hari ini dulu.

Jadi seperti biasa, kalau kelas mata kuliah berakhir lebih cepat, itu artinya lebih panjang waktu tersedia untuk ngobrol dan ketawa ketiwi sebelum pulang. Duuh, ibu-ibu banget yah. Maklumlah, dari 9 orang anak kelas sosial ini, 7 diantarnya cewek. Yang cowok cuma 2. Dan dua-duanya hobi ga masuk L Biasanya karena kecapekan abis maen futsal, hadeh.

Siang tadi saya dan the girls ngobrol ngalor ngidul sambil makan di food court Jatos. Lupa awalnya ngobrolin apa, tapi terus saya dengan suara serak-serak pegel (ehem) menyanyikan lagunya Kahitna yang Merenda Kasih, sebagai soundtrack ledekan buat kita yang lagi becandain mb Rianti soal nikah-nikah. Well, ehem, iya, kita ngomongin nikah (-__-‘). Abis nyanyi Merenda Kasih lanjut nyanyi Menikahimu, lagi-lagi dari Kahitna (emang keliatan ya hidup di dekade berapa.. Lagu-lagu awal Kahitna bo, jaman kapaaan itu). Terus si Gina nyeletuk: Nia nih nanti kalo nikah pasti lagunya yang kayak gini-gini, hahaha. Uhuk, kena deh. Saya jawab: enggaa! Aku lagunya “suasana di kota santriiii..” sambil rebanaan hehehe. Si Ron nyamber: emang Kahitna tu lagunya suka yang galau-galau gitu. Gina nyambung lagi: aku lagunya gamelan aja. Dan mb Andin pun menimpali: kalo aku nanti campur sari. Didi Kempot. Huakakakakkakkka, kita semua langsung ngakak.

Terus mb Andin ngomong gini: “aku suka sama Didi Kempot. Soalnya semua lagu-lagu dia itu galau abis. Didi Kempot itu ya, sebenarnya dia itu pacarnya banyak. Tapi selalu ditinggal di berbagai tempat. Coba ya, mulai dari ditinggal di Stasiun Solo Balapan, ditinggal di Terminal Tirtonadi, ditinggal di Pelabuhan Tanjung Mas, nyariin ke 1000 kota nanyain ke 1000 orang juga ga ketemu-ketemu.”

Huakakakakakka, saya ngakak kuadrat.

Kebayang saya tuh ya, Didi Kempot itu pasti seumur hidupnya penuh kegalauan. Dia adalah laki-laki paling menderita sedunia, ga pernah merasa sepenuhnya bahagia, terutama dalam hal cinta (aseek). Bayangin aja, tiap kali dia jatuh cinta, baru sebentar, pasti ditinggal pergi di berbagai tempat. Ditinggal di stasiun kereta lah, di terminal lah, haduuuh sedih amat jalan hidupnya. Udah keliling-keliling ke 1000 kota juga ga ketemu lagi. Pokoknya merana banget takdir cinta Didi Kempot itu. Makanya tiap kali liat stasiun kereta, dia galau. Tiap ke terminal, galau. Tiap ke pelabuhan, galau. Tiap ketemu orang, galau. Keinget terus sama kisah cintanya yang ga pernah bahagia. Selalu tersiksa. Hhh, dari dulu begitulah cinta.. Deritanya tiada akhir..

Minggu, 14 April 2013

"Selamat Tinggal dan Sampai Bertemu Lagi" Itu Punya Kegunaan Yang Berbeda


Waktu engkau pergi, aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Pernah terlintas dibenakku betapa pedihnya keadaan itu. Penyesalan mungkin kata yang tepat. Sebab setelah semua jasa dan pengorbanan yang sudah engkau torehkan dalam perjalanan hidup kita, mengapakah aku tidak sempat berucap selamat tinggal? Belakangan aku mengerti, selamat tinggal adalah kata yang diucapkan oleh mereka yang tidak percaya ada hidup setelah hidup. Tapi aku percaya. Aku percaya ada hidup setelah hidup. Maka aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal padamu. Aku ucapkan, sampai bertemu lagi. Dikehidupan yang lebih baik. Bukankah kita telah hidup cukup lama dengan darah dan airmata? Mungkin untuk itu kita cukup pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Tentu saja untuk itu aku harus mempersiapkan diri. Berbekal dengan sebaik-baik perbekalan. Mengisi ransel-ransel perjalanan panjang ini dengan bekal yang cukup. Yang menyenangkan adalah membayangkan bagaimana pertemuan kita nanti. Semoga kita tidak tercerai berai. Semoga kita tidak saling melemahkan. Semoga kita bisa saling bersaksi tentang kebaikan masing-masing. Semoga kita saling meringankan.

Aku mencintaimu. Dengan segenap lebih dan kurangnya. Yang aku sesalkan, aku selalu lupa mengatakan itu langsung padamu, dulu.

*habis nonton Life of Pi.
Saya setuju Pi engga sempat bilang selamat tinggal ke Richard Parker si harimau Bengali. Karena selamat tinggal dengan sampai bertemu lagi itu punya kegunaan yang berbeda :)