Waktu engkau pergi, aku tidak sempat mengucapkan selamat
tinggal. Pernah terlintas dibenakku betapa pedihnya keadaan itu. Penyesalan mungkin
kata yang tepat. Sebab setelah semua jasa dan pengorbanan yang sudah engkau
torehkan dalam perjalanan hidup kita, mengapakah aku tidak sempat berucap
selamat tinggal? Belakangan aku mengerti, selamat tinggal adalah kata yang
diucapkan oleh mereka yang tidak percaya ada hidup setelah hidup. Tapi aku
percaya. Aku percaya ada hidup setelah hidup. Maka aku tidak akan mengucapkan
selamat tinggal padamu. Aku ucapkan, sampai bertemu lagi. Dikehidupan yang
lebih baik. Bukankah kita telah hidup cukup lama dengan darah dan airmata? Mungkin
untuk itu kita cukup pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Tentu saja untuk itu aku harus mempersiapkan diri. Berbekal dengan
sebaik-baik perbekalan. Mengisi ransel-ransel perjalanan panjang ini dengan
bekal yang cukup. Yang menyenangkan adalah membayangkan bagaimana pertemuan
kita nanti. Semoga kita tidak tercerai berai. Semoga kita tidak saling
melemahkan. Semoga kita bisa saling bersaksi tentang kebaikan masing-masing. Semoga
kita saling meringankan.
Aku mencintaimu. Dengan segenap lebih dan kurangnya. Yang aku
sesalkan, aku selalu lupa mengatakan itu langsung padamu, dulu.
*habis nonton Life of Pi.
Saya setuju Pi engga sempat bilang selamat tinggal ke Richard Parker si harimau Bengali. Karena selamat tinggal dengan sampai bertemu lagi itu punya kegunaan yang berbeda :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar