Kamu
tahu dendam?
Itu
bahan bakar sempurna bagi segala macam hal buruk di muka bumi ini.
Seorang
adik, pada suatu sore menjelang magrib, pernah bercerita sambil tersedu-sedu
pada saya ketika kami beriringan sepulang dari sebuah kajian keislaman,
beberapa waktu lalu. Dia cerita tentang keluarganya. Tentang hubungan dia
dengan orang tua dan kakaknya. Lumayan banyak yang dia ceritakan. Sayangnya saya
tidak bisa mendengarkan ceritanya sampai selesai karena waktu yang mepet. Pukul
7 malam tepat saya sudah bikin janji ketemu dengan teman yang lain.
Diantara
waktu jelang magrib yang mepet itu, mengalirkan kisah tentang dia yang
senantiasa tidak dekat dengan ibu dan kakak perempuannya. Bertahun-tahun. Kisah
itu berawal dari, konon, keinginan sang ibu untuk punya anak laki-laki sesudah
anak pertamanya lahir perempuan. Ibunya sangat berharap anak kedua yang lahir
itu laki-laki. Katanya biar sepasang. Tapi takdir Allah berkata bahwa yang
lahir kemudian itu anak perempuan, lagi. Maka kata adik yang cerita itu, ibunya
kecewa. Kekecewaan itu berbuah keinginan untuk punya anak lagi yang ketiga
kalinya. Dan mudah-mudahan anak ketiga itu nanti laki-laki. Kenyataannya, anak
ketiga keluarga mereka lahir memang laki-laki.
Adik
itu bercerita bahwa karena sejak awal dia bukan anak yang diinginkan oleh orang
tuanya, perlakukan orang tua ke dia pun jadi berbeda. Orang tuanya lebih sayang
dengan kakak perempuannya dan adik laki-lakinya. Dia ada di tengah, dan
posisinya sering tidak kelihatan. Dia merasa orang tuanya kerap membanding-bandingkan
dia dengan saudaranya yang lain. Dan saudara-saudaranya itu di mata orang tua
selalu lebih baik dari dirinya. Dia merasa diperlakukan tidak adil. Disinilah letak
masalahnya.
Sekarang
ibu si adik yang bercerita itu sakit keras. Sampai harus operasi berkali-kali. Kakak
perempuannya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Tidak bisa
sering-sering menjaga ibu mereka. Sekarang, dialah yang selalu menjaga dan
menemani ibunya. Kata dia, ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan itu sejujurnya
memang agak mengesalkan. Karena mereka cenderung rewel dan manja. Tapi adik
yang bercerita itu luar biasa. Saya melihat kebesaran hati dibalik setitik
kemarahannya.
Dia bilang, selama
merawat ibunya, sering ada perasaan senang dalam dirinya melihat ibunya yang
sakit keras itu. Dia sedikit senang ketika melihat ibunya di kemo dan
kesakitan. Ketika ibunya minum obat dan rasanya tidak enak. Rasa senang itu
muncul karena dendam yang dia rasakan akibat perlakukan ibunya yang suka
membanding-bandingkan dia dengan kakak perempuannya selama ini. Adik itu sambil
sesenggukan bertanya pada saya: apa aku dosa teh punya pikiran seperti itu ke
mama?
Saya tahu dia juga
menyimpan rasa bersalah. Aduh. Dendam dan rasa bersalah yang menyatu dalam jiwa
seseorang itu rumit.
Saya mati kutu. Tidak bisa
langsung menjawab pertanyaannya. Butuh waktu agak lama buat saya untuk menyusun
kata-kata agar jawaban saya tepat. Saya tidak mungkin menyulut api dendam dalam
dirinya agar semakin berkobar. Yang segitu saja sudah cukup membuat dia
menderita. Tapi saya, sebagai calon psikolog (yang semoga bukan psikolog
bermulut ember) sadar betul darimana asalnya benih-benih dendam itu. Sisi manusiawi
saya bilang, wajar dia merasa begitu. Lha ibunya memang tidak adil sejak dulu. Tapi
sisi lainnya tahu bahwa perintah berbuat baik pada orang tua itu datangnya
langsung dari Allah Sang Pencipta. Karena Allah yang perintahkan kita berbuat
baik pada orang tualah maka kita berbuat baik pada mereka. Bukan sekedar karena
mereka telah berbuat baik pada kita, atau karena mereka telah merawat kita. Karena
jika kita berbuat baik pada orang tua hanya tersebab alasan itu, maka ketika
orang tua alpa berbuat baik pada kita, kita merasa hilang kewajiban untuk berbuat
baik pada mereka. Karena kita merasa berbuat baik itu adalah hitung-hitungan
duniawi.
Saya katakan itu
padanya, dan si adik yang malang itu masih tetap sesenggukan. Saya tahu dia
masih belum lega. Kalau dalam proses konseling, ini baru tahap sangat awal. Tapi
saya harus menyudahi ceritanya sambil berpesan kalau dia mau cerita lagi boleh
hubungi saya.