Sabtu, 01 Maret 2014

Dendam

Kamu tahu dendam?
Itu bahan bakar sempurna bagi segala macam hal buruk di muka bumi ini.

            Seorang adik, pada suatu sore menjelang magrib, pernah bercerita sambil tersedu-sedu pada saya ketika kami beriringan sepulang dari sebuah kajian keislaman, beberapa waktu lalu. Dia cerita tentang keluarganya. Tentang hubungan dia dengan orang tua dan kakaknya. Lumayan banyak yang dia ceritakan. Sayangnya saya tidak bisa mendengarkan ceritanya sampai selesai karena waktu yang mepet. Pukul 7 malam tepat saya sudah bikin janji ketemu dengan teman yang lain.
            Diantara waktu jelang magrib yang mepet itu, mengalirkan kisah tentang dia yang senantiasa tidak dekat dengan ibu dan kakak perempuannya. Bertahun-tahun. Kisah itu berawal dari, konon, keinginan sang ibu untuk punya anak laki-laki sesudah anak pertamanya lahir perempuan. Ibunya sangat berharap anak kedua yang lahir itu laki-laki. Katanya biar sepasang. Tapi takdir Allah berkata bahwa yang lahir kemudian itu anak perempuan, lagi. Maka kata adik yang cerita itu, ibunya kecewa. Kekecewaan itu berbuah keinginan untuk punya anak lagi yang ketiga kalinya. Dan mudah-mudahan anak ketiga itu nanti laki-laki. Kenyataannya, anak ketiga keluarga mereka lahir memang laki-laki.
            Adik itu bercerita bahwa karena sejak awal dia bukan anak yang diinginkan oleh orang tuanya, perlakukan orang tua ke dia pun jadi berbeda. Orang tuanya lebih sayang dengan kakak perempuannya dan adik laki-lakinya. Dia ada di tengah, dan posisinya sering tidak kelihatan. Dia merasa orang tuanya kerap membanding-bandingkan dia dengan saudaranya yang lain. Dan saudara-saudaranya itu di mata orang tua selalu lebih baik dari dirinya. Dia merasa diperlakukan tidak adil. Disinilah letak masalahnya.
            Sekarang ibu si adik yang bercerita itu sakit keras. Sampai harus operasi berkali-kali. Kakak perempuannya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Tidak bisa sering-sering menjaga ibu mereka. Sekarang, dialah yang selalu menjaga dan menemani ibunya. Kata dia, ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan itu sejujurnya memang agak mengesalkan. Karena mereka cenderung rewel dan manja. Tapi adik yang bercerita itu luar biasa. Saya melihat kebesaran hati dibalik setitik kemarahannya.
Dia bilang, selama merawat ibunya, sering ada perasaan senang dalam dirinya melihat ibunya yang sakit keras itu. Dia sedikit senang ketika melihat ibunya di kemo dan kesakitan. Ketika ibunya minum obat dan rasanya tidak enak. Rasa senang itu muncul karena dendam yang dia rasakan akibat perlakukan ibunya yang suka membanding-bandingkan dia dengan kakak perempuannya selama ini. Adik itu sambil sesenggukan bertanya pada saya: apa aku dosa teh punya pikiran seperti itu ke mama?
Saya tahu dia juga menyimpan rasa bersalah. Aduh. Dendam dan rasa bersalah yang menyatu dalam jiwa seseorang itu rumit.
Saya mati kutu. Tidak bisa langsung menjawab pertanyaannya. Butuh waktu agak lama buat saya untuk menyusun kata-kata agar jawaban saya tepat. Saya tidak mungkin menyulut api dendam dalam dirinya agar semakin berkobar. Yang segitu saja sudah cukup membuat dia menderita. Tapi saya, sebagai calon psikolog (yang semoga bukan psikolog bermulut ember) sadar betul darimana asalnya benih-benih dendam itu. Sisi manusiawi saya bilang, wajar dia merasa begitu. Lha ibunya memang tidak adil sejak dulu. Tapi sisi lainnya tahu bahwa perintah berbuat baik pada orang tua itu datangnya langsung dari Allah Sang Pencipta. Karena Allah yang perintahkan kita berbuat baik pada orang tualah maka kita berbuat baik pada mereka. Bukan sekedar karena mereka telah berbuat baik pada kita, atau karena mereka telah merawat kita. Karena jika kita berbuat baik pada orang tua hanya tersebab alasan itu, maka ketika orang tua alpa berbuat baik pada kita, kita merasa hilang kewajiban untuk berbuat baik pada mereka. Karena kita merasa berbuat baik itu adalah hitung-hitungan duniawi.
Saya katakan itu padanya, dan si adik yang malang itu masih tetap sesenggukan. Saya tahu dia masih belum lega. Kalau dalam proses konseling, ini baru tahap sangat awal. Tapi saya harus menyudahi ceritanya sambil berpesan kalau dia mau cerita lagi boleh hubungi saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar