Saya
udah pernah cerita kan kalau 5 tahun masa kuliah saya, saya habiskan di kota
sejuk Malang? Plus beberapa bulan setelahnya saya masih stay di kota itu
sembari menunggu menunggu waktu pendaftaran S2.
Kali
ini saya mau cerita tentang secuil pengalaman saya selama tinggal di kota sejuk
itu. Sepotong takdir mengantarkan saya pada kesempatan merasakan pengalaman
hidup di kota nan ramai yang dipenuhi berbagai macam kemudahan kehidupan, yang ternyata,
sekaligus dikelilingi oleh banyak tempat-tempat penuh keterbatasan. Pertama kali
saya menyadarinya adalah ketika ikut program KKN dari kampus kece badai tempat
saya menimba ilmu beberapa tahun lalu: Universitas Muhammadiyah Malang.
Saya
KKN dipertengahan tahun 2009 (buset udah lama juga ya). Ditempatkan di sebuah
kecamatan yang engga terlalu jauh dari pusat kota. Malah engga terlalu jauh
juga dari kosan dan kampus saya. Pernah saya menjajal angkot dari lokasi KKN ke
daerah kampus, waktu tempuhnya hanya 2 jam. Padahal itu udah pake macet.
Namanya adalah kecamatan Wagir. Actually saya lupa dusunnya apa.
Tempat
KKN saya cukup menyenangkan. Suasananya tergolong masih asri dan desa bingiiits.
Kalau udah ba’da magrib sunyi sepi bo’. Lokasi tempat ngekos saya dan teman-teman
satu kelompok dikelilingi perumahan warga desa dan sawah. Sawahnya masih
luas-luas banget. Hari-hari dimana kami KKN disana adalah musim panen padi.
Jadi padinya pada udah menguning semua. Cantik deh kalau dilihat. Dan di ujung
sana, jauh di tengah sawah sana, melintang panjang rel kereta api. Dengan
noraknya saya pernah melakukan sesuatu yang konyol: yakni melambai-lambaikan
tangan dengan girang ke kereta yang waktu itu sedang lewat. Padahal itu
jaraknya jauh banget. Ga mungkin banget orang-orang di kereta itu bisa ngeliat
ada gadis cantik berjilbab pink melambai-lambai pada mereka dari seberang
sawah, hehehe. Tapi saya gembira banget bisa melakukannya.
Dan di desa itu ada
sungainya juga. Pernah suatu kali rame-rame kita sekelompok jalan-jalan ke sungai
itu. Istilah orang sana: sumber. Awal denger kata itu saya ga ngeh. Apaan sih
sumber? Setelah dijelasin oh ternyata maksudnya adalah sungai. Waktu
diperjalanan menuju kesana dengan jalan kaki, saya udah exited aja pengen lihat
sungai. Yang dibayangan saya, wiih keren nih ada sungai. Kayak apa sih sungai
di Jawa? Apa kayak Bengawan Solo gitu? Rada katrok sih. Karena saya belum
pernah lihat sungai selama tinggal di pulau Jawa. Satu-satunya sungai di pulau
Jawa yang familiar di kepala saya adalah Bengawan Solo. Sama Ciliwung sih kalo
di Jakarta, gara-gara beritanya sering muncul di televisi pas musim banjir.
Maka
saya pun gondok bukan kepalang begitu sampai di lokasi TKP sungai tersebut.
Ealaah, ini tho sungainya. Gondok karena sungai itu jauh dari ekspektasi saya.
Mana jalan kesitunya bikin capek dan terjal lagi. Karena ternyata sungai yang
dimaksud dan digembar-gemborkan sebagai salah satu sumber pengairan paling
vital bagi masyarakat Wagir itu adalah si sungai cetek ini. Saya lupa namanya.
Beh beh… Kalau yang beginian mah, di Papua juga banyak. Waktu saya kecil sering
nyemplung-nyemplung di sungai alias kali beginian, karena di belakang rumah
pengasuh adik saya ada kali yang juga jadi sumber air dan tempat nyuci, mandi,
sekaligus bokernya warga sekitar.
Tapi
oke, tulisan ini bukan tentang si kali cetek itu. Saya mau cerita tentang
bagaimana kondisi lokasi tempat saya KKN. Eh saya udah bilang kan kalau lokasi
KKN ini dikeliling sawah? Nah itulah kata kuncinya. Sejauh mata memandang yang
tampak adalah hamparan sawah. Dan itu berarti bahwa jarak dari satu dusun ke
dusun lainnya itu jauh bingiiits. Karena ada sawah berhektar-hektar membentang diantar
dusun-dusun tersebut. Saya kalau mau ke SD terdekat jalan kaki bisa 45 menit
(iya sih lama. Karena saya mesti ngebawa badan yang segede gambreng ini juga).
Pernah saya coba pinjam sepeda anak-anak kampung. Waktu tempuhnya jadi 20
menitan aja. Tapi cuma sekali aja abis gitu ga berani minjam lagi. Karena abis
saya pinjam ban sepedanya langsung gembos dan muka si anak yang sepedanya saya
pinjam itu langsung kayak mau nangis.
Poin
paling penting dari lokasi tempat KKN saya ini adalah jaraknya ke pinggir jalan
raya. Kamu kalau masuk ke desa Wagir itu naik kendaraan pasti akan terasa jauh
banget. Naik bis kami pernah 1 jam dari pinggir jalan raya kabupaten Malang ke
pintu masuk desa. Naik motor juga pernah dan waktu tempuhnya kurang lebih sama.
Jalan kaki? Nah ini bagian paling nyebelinnya.
Kalau
jalan kaki dari pusat desa ke daerah perbatasan dengan pemukiman penduduk yang
lebih modern dan ramai, itu butuh waktu ga sampe 15 menit, teman-teman! Hanya
dengan melewati jalan menanjak yang rusak parah dan menyeberangi sebuah
jembatan kayu bobrok doang. 15 menit! Dari situ jalan kaki lagi 20 menitan
nyampe deh di pinggir jalan raya. Nyetop angkot trus bisa langsung cuss ke
Malang.
Begitu sampai di
perbatasan pemukiman penduduk yang ramai dan modern itu, saya langsung syok.
Kontras banget bedanya dengan lokasi dusun yang ketinggalan 15 menit di belakang
saya tadi. Di pemukiman ini terasa ekonominya lebih maju. Banyak warung-warung,
rumah-rumahnya lebih besar dan kokoh. Masjidnya gede dan menaranya tinggi. Asli
jauh banget kondisinya sama dusun KKN saya. Ya Allah… Ini poinnya. Satu jam
dari episentrum peradaban ini, ada dusun kecil yang warganya sangat sederhana,
yang anak-anak sekolahnya kurang bahan bacaan, yang pekerjaan penduduknya
bertani doang. Satu jam dari episentrum peradaban ini ada sebuah lokasi yang
ketinggalan entah beberapa belas tahun kebelakang saking terisolirnya. Satu jam
dari mulusnya aspal jalan antar kabupaten ini, ada sebuah jalan dusun yang
rusak parah dan jembatannya bobrok, yang oleh karenanya tidak bisa dilewati
kendaraan sehingga orang-orang harus muter jauh kalau mau masuk dusun. Kenapa
hal-hal kayak gini ga jadi perhatian pemerintah daerah? Berapa sih APBD yang
harus keluar untuk memperbaiki jalan dusun itu? Insya Allah engga banyak.
Karena jalan dusunnya juga cuma sedikit. Tapi efek yang ditimbulkan dari jalan
yang mulus itu pasti luar biasa. Ekonomi akan meningkat, pendidikan juga
meningkat, dan lain-lain. Kenapa hal-hal kayak gini ga jadi perhatian
pemerintah daerah?
Sepotong takdir lainnya
pernah membawa saya ke sebuah desa yang tidak kalah mengenaskannya di sudut
kabupaten Malang yang lain. Namanya desa Kucur. Kali ini dalam rangka mengemban
tugas untuk mengajari sekelompok ibu-ibu disana belajar agama islam. Bukan saya
yang ngajarin. Saya cuma tukang ojek, hehehe. Yang ngajarin adalah seorang mbak
dengan pengetahuan agama yang mumpuni. Saya bertugas memboncengi beliau ke TKP.
Kucur ini jaraknya dari
bangunan megah menara gading ilmu pengetahuan Universitas Muhammadiyah Malang
hanya 1 jam perjalanan naik motor. Serius! Cuma 1 jam! Saya udah ngitung. Kalau
ngebut bisa lebih cepat lagi. Tapi berhubung yang biasa saya bonceng adalah
ibu-ibu yang gendong anak, jadi saya engga boleh terlalu beringasan di jalan,
hehehe.
Tapi jalan menuju sana,
masya Allah…
Setelah melalui jalan
desa belok-belok yang bikin pusing (saya nyasar beberapa kali), rute paling
serem adalah ngelewatin hutan… *jreng jreng.. (biar dramatis). Hutan beneran
bo’. Sesekali kalo lewat situ saya suka ketemu para penebang kayu. Eh tapi
mending kalau hutan aja. Ini hutan plus plus. Maksudnya hutan yang jalannya
masih ancur banget. Aspal sih, tapi ga rata dan bolong-bolong. Saya curiga
terakhir kali aspal itu dibenerin kayaknya pas jaman Belanda. Udah gitu
jalannya nanjak dan pas bagian menurunnya curam banget. Sebenarnya ada 2 jalan.
Lewat hutan itu dan lewat satunya lagi. Tapi berhubung jalan satunya itu susah
saya hapalin, saya lebih sering lewat hutan.
Masyarakat di desa
Kucur itu jadi agak terisolir karena akses jalan kesana engga terlalu bagus.
Orang juga jadi males datang atau keluar dari Kucur karena jalannya yang
begitu. Saya lagi-lagi mikir: berapa duit sih yang dibutuhin sebenarnya buat
benerin jalan seiprit itu doang? Ga akan sebanyak kalo ngaspal jalan raya antar
kabupaten kan? Jadi kalau jalan antar kabupaten bisa mulus kinclong begitu,
kenapa jalan sepotong ke Kucur ini engga dibenerin juga? Kenapa sih hal-hal
kayak gini sering alpa jadi perhatian pemerintah?
Padahal kalau jalan
hutan ke Kucur itu dibagusin, lagi-lagi, ekonomi warga sekitar insya Allah akan
meningkat. Karena akses support bahan pangan dan kebutuhan akan lebih lancar.
Jika misalnya orang Kucur punya hasil bumi pun bisa dengan cepat dan mudah
dibawa ke tempat lain. Orang yang mau ngisi-ngisi materi keagamaan kayak saya
dan si mbak muslimah itu pun engga akan terlalu takut sering-sering kesana. Hal
itu kan jadi bikin pengetahuan ibu-ibu warga sana juga jadi meningkat.
Pengetahuan ibu yang meningkat, akan berdampak pada pola asuh dan pendidikan
bagi anak-anaknya. Anak-anak yang tumbuh dengan didikan yang baik, insya Allah
akan menjadi investasi yang menguntungkan bagi kemajuan bangsa ini dimasa depan
*tsah… (keren ga saya ngomong beginian? Hehehe).
Makanya saya suka ga
habis pikir kenapa pemerintah kadang kurang menaruh perhatian pada hal-hal
seperti ini? Pada jalan-jalan di daerah-daerah terpencil. Padahal kita semua
tahu pembangunan infrastruktur jalan itu luar biasa pentingnya. Karena
transportasi yang lancar berefek pada ekonomi, pendidikan, juga sosial. Btw, gimana kabar Wagir dan Kucur sekarang ya?
(foto jadul, hehe. Jaman saya masih kurus nan bercahaya -__-")

Tidak ada komentar:
Posting Komentar