Kamis, 20 Februari 2014

Satu Jam Dari Episentrum Peradaban

            Saya udah pernah cerita kan kalau 5 tahun masa kuliah saya, saya habiskan di kota sejuk Malang? Plus beberapa bulan setelahnya saya masih stay di kota itu sembari menunggu menunggu waktu pendaftaran S2.
            Kali ini saya mau cerita tentang secuil pengalaman saya selama tinggal di kota sejuk itu. Sepotong takdir mengantarkan saya pada kesempatan merasakan pengalaman hidup di kota nan ramai yang dipenuhi berbagai macam kemudahan kehidupan, yang ternyata, sekaligus dikelilingi oleh banyak tempat-tempat penuh keterbatasan. Pertama kali saya menyadarinya adalah ketika ikut program KKN dari kampus kece badai tempat saya menimba ilmu beberapa tahun lalu: Universitas Muhammadiyah Malang.
            Saya KKN dipertengahan tahun 2009 (buset udah lama juga ya). Ditempatkan di sebuah kecamatan yang engga terlalu jauh dari pusat kota. Malah engga terlalu jauh juga dari kosan dan kampus saya. Pernah saya menjajal angkot dari lokasi KKN ke daerah kampus, waktu tempuhnya hanya 2 jam. Padahal itu udah pake macet. Namanya adalah kecamatan Wagir. Actually saya lupa dusunnya apa.
            Tempat KKN saya cukup menyenangkan. Suasananya tergolong masih asri dan desa bingiiits. Kalau udah ba’da magrib sunyi sepi bo’. Lokasi tempat ngekos saya dan teman-teman satu kelompok dikelilingi perumahan warga desa dan sawah. Sawahnya masih luas-luas banget. Hari-hari dimana kami KKN disana adalah musim panen padi. Jadi padinya pada udah menguning semua. Cantik deh kalau dilihat. Dan di ujung sana, jauh di tengah sawah sana, melintang panjang rel kereta api. Dengan noraknya saya pernah melakukan sesuatu yang konyol: yakni melambai-lambaikan tangan dengan girang ke kereta yang waktu itu sedang lewat. Padahal itu jaraknya jauh banget. Ga mungkin banget orang-orang di kereta itu bisa ngeliat ada gadis cantik berjilbab pink melambai-lambai pada mereka dari seberang sawah, hehehe. Tapi saya gembira banget bisa melakukannya.
Dan di desa itu ada sungainya juga. Pernah suatu kali rame-rame kita sekelompok jalan-jalan ke sungai itu. Istilah orang sana: sumber. Awal denger kata itu saya ga ngeh. Apaan sih sumber? Setelah dijelasin oh ternyata maksudnya adalah sungai. Waktu diperjalanan menuju kesana dengan jalan kaki, saya udah exited aja pengen lihat sungai. Yang dibayangan saya, wiih keren nih ada sungai. Kayak apa sih sungai di Jawa? Apa kayak Bengawan Solo gitu? Rada katrok sih. Karena saya belum pernah lihat sungai selama tinggal di pulau Jawa. Satu-satunya sungai di pulau Jawa yang familiar di kepala saya adalah Bengawan Solo. Sama Ciliwung sih kalo di Jakarta, gara-gara beritanya sering muncul di televisi pas musim banjir.
            Maka saya pun gondok bukan kepalang begitu sampai di lokasi TKP sungai tersebut. Ealaah, ini tho sungainya. Gondok karena sungai itu jauh dari ekspektasi saya. Mana jalan kesitunya bikin capek dan terjal lagi. Karena ternyata sungai yang dimaksud dan digembar-gemborkan sebagai salah satu sumber pengairan paling vital bagi masyarakat Wagir itu adalah si sungai cetek ini. Saya lupa namanya. Beh beh… Kalau yang beginian mah, di Papua juga banyak. Waktu saya kecil sering nyemplung-nyemplung di sungai alias kali beginian, karena di belakang rumah pengasuh adik saya ada kali yang juga jadi sumber air dan tempat nyuci, mandi, sekaligus bokernya warga sekitar.
            Tapi oke, tulisan ini bukan tentang si kali cetek itu. Saya mau cerita tentang bagaimana kondisi lokasi tempat saya KKN. Eh saya udah bilang kan kalau lokasi KKN ini dikeliling sawah? Nah itulah kata kuncinya. Sejauh mata memandang yang tampak adalah hamparan sawah. Dan itu berarti bahwa jarak dari satu dusun ke dusun lainnya itu jauh bingiiits. Karena ada sawah berhektar-hektar membentang diantar dusun-dusun tersebut. Saya kalau mau ke SD terdekat jalan kaki bisa 45 menit (iya sih lama. Karena saya mesti ngebawa badan yang segede gambreng ini juga). Pernah saya coba pinjam sepeda anak-anak kampung. Waktu tempuhnya jadi 20 menitan aja. Tapi cuma sekali aja abis gitu ga berani minjam lagi. Karena abis saya pinjam ban sepedanya langsung gembos dan muka si anak yang sepedanya saya pinjam itu langsung kayak mau nangis.
            Poin paling penting dari lokasi tempat KKN saya ini adalah jaraknya ke pinggir jalan raya. Kamu kalau masuk ke desa Wagir itu naik kendaraan pasti akan terasa jauh banget. Naik bis kami pernah 1 jam dari pinggir jalan raya kabupaten Malang ke pintu masuk desa. Naik motor juga pernah dan waktu tempuhnya kurang lebih sama. Jalan kaki? Nah ini bagian paling nyebelinnya.
            Kalau jalan kaki dari pusat desa ke daerah perbatasan dengan pemukiman penduduk yang lebih modern dan ramai, itu butuh waktu ga sampe 15 menit, teman-teman! Hanya dengan melewati jalan menanjak yang rusak parah dan menyeberangi sebuah jembatan kayu bobrok doang. 15 menit! Dari situ jalan kaki lagi 20 menitan nyampe deh di pinggir jalan raya. Nyetop angkot trus bisa langsung cuss ke Malang.
Begitu sampai di perbatasan pemukiman penduduk yang ramai dan modern itu, saya langsung syok. Kontras banget bedanya dengan lokasi dusun yang ketinggalan 15 menit di belakang saya tadi. Di pemukiman ini terasa ekonominya lebih maju. Banyak warung-warung, rumah-rumahnya lebih besar dan kokoh. Masjidnya gede dan menaranya tinggi. Asli jauh banget kondisinya sama dusun KKN saya. Ya Allah… Ini poinnya. Satu jam dari episentrum peradaban ini, ada dusun kecil yang warganya sangat sederhana, yang anak-anak sekolahnya kurang bahan bacaan, yang pekerjaan penduduknya bertani doang. Satu jam dari episentrum peradaban ini ada sebuah lokasi yang ketinggalan entah beberapa belas tahun kebelakang saking terisolirnya. Satu jam dari mulusnya aspal jalan antar kabupaten ini, ada sebuah jalan dusun yang rusak parah dan jembatannya bobrok, yang oleh karenanya tidak bisa dilewati kendaraan sehingga orang-orang harus muter jauh kalau mau masuk dusun. Kenapa hal-hal kayak gini ga jadi perhatian pemerintah daerah? Berapa sih APBD yang harus keluar untuk memperbaiki jalan dusun itu? Insya Allah engga banyak. Karena jalan dusunnya juga cuma sedikit. Tapi efek yang ditimbulkan dari jalan yang mulus itu pasti luar biasa. Ekonomi akan meningkat, pendidikan juga meningkat, dan lain-lain. Kenapa hal-hal kayak gini ga jadi perhatian pemerintah daerah?
Sepotong takdir lainnya pernah membawa saya ke sebuah desa yang tidak kalah mengenaskannya di sudut kabupaten Malang yang lain. Namanya desa Kucur. Kali ini dalam rangka mengemban tugas untuk mengajari sekelompok ibu-ibu disana belajar agama islam. Bukan saya yang ngajarin. Saya cuma tukang ojek, hehehe. Yang ngajarin adalah seorang mbak dengan pengetahuan agama yang mumpuni. Saya bertugas memboncengi beliau ke TKP.
Kucur ini jaraknya dari bangunan megah menara gading ilmu pengetahuan Universitas Muhammadiyah Malang hanya 1 jam perjalanan naik motor. Serius! Cuma 1 jam! Saya udah ngitung. Kalau ngebut bisa lebih cepat lagi. Tapi berhubung yang biasa saya bonceng adalah ibu-ibu yang gendong anak, jadi saya engga boleh terlalu beringasan di jalan, hehehe.
Tapi jalan menuju sana, masya Allah…
Setelah melalui jalan desa belok-belok yang bikin pusing (saya nyasar beberapa kali), rute paling serem adalah ngelewatin hutan… *jreng jreng.. (biar dramatis). Hutan beneran bo’. Sesekali kalo lewat situ saya suka ketemu para penebang kayu. Eh tapi mending kalau hutan aja. Ini hutan plus plus. Maksudnya hutan yang jalannya masih ancur banget. Aspal sih, tapi ga rata dan bolong-bolong. Saya curiga terakhir kali aspal itu dibenerin kayaknya pas jaman Belanda. Udah gitu jalannya nanjak dan pas bagian menurunnya curam banget. Sebenarnya ada 2 jalan. Lewat hutan itu dan lewat satunya lagi. Tapi berhubung jalan satunya itu susah saya hapalin, saya lebih sering lewat hutan.
Masyarakat di desa Kucur itu jadi agak terisolir karena akses jalan kesana engga terlalu bagus. Orang juga jadi males datang atau keluar dari Kucur karena jalannya yang begitu. Saya lagi-lagi mikir: berapa duit sih yang dibutuhin sebenarnya buat benerin jalan seiprit itu doang? Ga akan sebanyak kalo ngaspal jalan raya antar kabupaten kan? Jadi kalau jalan antar kabupaten bisa mulus kinclong begitu, kenapa jalan sepotong ke Kucur ini engga dibenerin juga? Kenapa sih hal-hal kayak gini sering alpa jadi perhatian pemerintah?
Padahal kalau jalan hutan ke Kucur itu dibagusin, lagi-lagi, ekonomi warga sekitar insya Allah akan meningkat. Karena akses support bahan pangan dan kebutuhan akan lebih lancar. Jika misalnya orang Kucur punya hasil bumi pun bisa dengan cepat dan mudah dibawa ke tempat lain. Orang yang mau ngisi-ngisi materi keagamaan kayak saya dan si mbak muslimah itu pun engga akan terlalu takut sering-sering kesana. Hal itu kan jadi bikin pengetahuan ibu-ibu warga sana juga jadi meningkat. Pengetahuan ibu yang meningkat, akan berdampak pada pola asuh dan pendidikan bagi anak-anaknya. Anak-anak yang tumbuh dengan didikan yang baik, insya Allah akan menjadi investasi yang menguntungkan bagi kemajuan bangsa ini dimasa depan *tsah… (keren ga saya ngomong beginian? Hehehe).
Makanya saya suka ga habis pikir kenapa pemerintah kadang kurang menaruh perhatian pada hal-hal seperti ini? Pada jalan-jalan di daerah-daerah terpencil. Padahal kita semua tahu pembangunan infrastruktur jalan itu luar biasa pentingnya. Karena transportasi yang lancar berefek pada ekonomi, pendidikan, juga sosial. Btw, gimana kabar Wagir dan Kucur sekarang ya?


(foto jadul, hehe. Jaman saya masih kurus nan bercahaya -__-")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar