Hari
ini rencananya saya mau bimbingan. Tapi dosen pembimbing rupanya lagi
ga ada. Jadilah saya nongkrong di perpus, lalu kepengen menuliskan ini.
Terhitung dari tahun 2006 sampai sekarang, udah 8 tahun berjalan sejak pertama kali saya kenalan dengan ilmu psikologi. Officiallynya 7 tahun untuk kuliah. Karena saya postponed setahun setelah lulus S1 di 2011 dan baru nerusin kuliah lagi tahun 2012. Yah walaupun sekarang udah mau 2015 dan saya masih stuck di tesis #mintapukpuk
Banyak banget suka dukanya sebagai mahasiswa psikologi. Satu yang menyenangkan, sebagian besar anak psikologi itu cewek. Jadi kalau ngobrol nyambung banget. Adapun teman-teman yang cowok, mereka banyakan ngalah hahaha. Keikut sama kami yang cewek-cewek ini. Kalau kami ngobrol, mereka terpaksa harus mendengarkan. Kalau kami marah-marah, mereka terpaksa harus bersabar. Kalau kami protes, mereka terpaksa harus mengalah. Kalau motor kami mogok, merekalah yang dorong. Hahahaa. Jadi jangan heran kalau lihat mahasiswa psikologi yang cowok-cowok itu pada baik hati semua. Tertular kebaikan hati mahasiswa ceweknya.
Anak psikologi sudah kodratnya jadi tempat sampah. Karena pengalaman sering jadi tempat sampah dan konselor dadakan bagi siapapun ummat manusia yang ga sengaja ketemu di jalan dan pas kenalan tahu kalau saya kuliah psikologi, maka saya kalau kemana-mana suka pura-pura autis. Hehehe, engga ding. Maksudnya cenderung tenggelam di aktivitas sendiri. Biar ga dideketin orang. Bukannya songong apalagi sok ngetop, tapi entah gimana caranya, ummat manusia di luar sana itu bisa loh mendeteksi keberadaan psikolog-psikolog di sekitar mereka. Begitu mereka tahu di dekat mereka ada anak psikologi, langsung dah mereka mengganggap kami ini penyabar laksana Dewi Kwan Im yang siap sedia mendengar segala permasalahan tumpah darah mereka. Padahal kan engga juga. Psikolog, anak psikologi, atau konselor itu cuma manusia biasa. Kami bisa galau, bisa pula alay. Takdirnya aja kami ini kece-kece #kibasjilbab. Tapi bukan berarti kami selalu full charge untuk jadi tempat sampah orang lain, atau bank solusi untuk permasalahan orang lain.
FYI aja, jadi konselor tuh ga bisa dadakan. Kami para anak psikologi ini, kalau mau praktikum konseling aja persiapannya dari 5 abad sebelumnya. Ga. Itu lebay. Maksudnya kami prepare dari jauh-jauh hari. Mulai dari baca teori, bikin action plan, pelajari teknik konseling, dan lain-lain. Itu susyeeeh. Karena prinsipnya jangan masuk ke kehidupan seseorang kalau kamu engga bisa bantu orang itu untuk nyelesain masalahnya. Konseling itu mirip-mirip operasi bedah. Abis lo bedah, lo acak-acak isinya, harus bisa beresin lagi. Itu.
Jadi anak psikologi juga kadang mengandung beban tersendiri. Terutama dari lingkungan sosial. Orang suka berharap lebih dari seseorang yang belajar psikologi. Kayak yang saya bilang di atas, kami kadang disangka titisan Dewi Kwan Im yang sabaaar banget. Atau titisan pertapa-pertapa yang bijaksana. Waktu di kampus hal ini mungkin ga begitu terasa. Karena rata-rata gaulnya dengan yang seumuran semua. Setelah lulus pasti akan lebih terasa. Terutama kalau kamu cewek, yang notabene akan sering berhadapan dengan ibu-ibu. Ibu-ibu di luar sana tuh ya, saya kasih tahu, hidupnya penuuuh masalah. Hahaha. Kerjaannya curhaaaat melulu. Kalau ga ngomong, capek mereka. Beda dengan bapak-bapak yang cenderung lebih pendiam. Makanya begitu mereka ketemu anak psikologi yang sama-sama perempuannya, siap-siaplah kupingmu panas. Pengalaman saya pernah duduk diam 1,5 jam dengerin emak-emak ngoceh, hahaha.
Capek? Pasti. Tapi kalau kamu anak psikologi yang baik, kamu pasti akan memanjangkan kesabaran, dan membiarkan dirimu mendengar ocehan 1,5 jam emak-emak itu. Karena kamu tahu bahwa 1,5 jam yang kamu dedikasikan untuk menjadikan dirimu tempat sampah seseorang, bisa sangat berarti buat orang itu. Sebab bisa jadi, dia sudah terlalu lama kesepian. Terlalu lama engga punya orang yang bersedia mendengarkan dia bicara. Bahwa dengan bicara itu, kamu berharap dia mendapatkan kelegaannya, dan setelah itu bisa melakukan hal lain dengan penuh semangat. Apalagi karena kamu tahu, sekarang ini betapa sulitnya mencari orang yang mau mendengarkan kita bicara, bukan?
Anak psikologi juga sering dianggap banyak tahu. Ahli masalah hubungan. Untuk persoalan ini, saya sering ngerasa jengah juga. Karena sering dimintai advise sama orang untuk masalah pernikahan dan keluarga. Padahal saya nikah aja belum. Disangkanya orang kalau udah kuliah psikologi tuh berarti kamu udah expert banget. Padahalkan engga. Modal saya cuma kece doang, suerrr. Pengalaman sih nol besar. Cuma menang diteori. Tapi tiap ketemu orang di jalan, dan mereka tahu saya kuliah psikologi, ada dua tema pertanyaan (dan curhat) besar yang akan mereka tumpahkan seketika ke saya: pertama tentang analisis kepribadian, kedua tentang pernikahan. Saking seringnya saya ditanyain tentang 2 hal itu, saya sampai mikir: emang Indonesia ini isinya orang-orang yang bingung sama jati diri dan keluarga mereka yah? Saya kadang suka mesem-mesem kalau harus ngasih advise. Takut kaburo maktan.
Ilmu psikologi ini sebenarnya banyak baiknya kok. Jangan pula dimusuhi 100%. Insya Allah sangat diperlukan untuk perbaikan masyarakat. Jadi buat kamu-kamu yang lagi belajar psikologi, terutama untuk adik-adikku yang masih menimba ilmu di strata satu (ebuset, berasa lagi mau nutup kajian) belajarlah sebaik-baiknya, dik. Tambahkan keilmuan psikologimu dengan pemahaman agama sebanyak-banyaknya. Karena apalah arti banyaknya ilmu dunia yang engkau kuasai, jika ilmu akhiratmu hanya seiprit. Ilmu akhirat itu yang bakal bikin ilmu duniamu jadi punya arah dan tujuan. Ilmu akhiratlah yang akan jadi platformmu dalam mengejawantahkan ilmu dunia. Ingat dik, Allah ghoyyatunna. Kita adalah penduduk surga. Kesanalah kita kan berpulang semoga. Takbir! #plisNia #apadeh -__-
Yah by the way on the way busway, saya seneng jadi anak psikologi. Cuma kalau sekarang lagi ga seneng aja ngerjain tesis, hehehe.
Terhitung dari tahun 2006 sampai sekarang, udah 8 tahun berjalan sejak pertama kali saya kenalan dengan ilmu psikologi. Officiallynya 7 tahun untuk kuliah. Karena saya postponed setahun setelah lulus S1 di 2011 dan baru nerusin kuliah lagi tahun 2012. Yah walaupun sekarang udah mau 2015 dan saya masih stuck di tesis #mintapukpuk
Banyak banget suka dukanya sebagai mahasiswa psikologi. Satu yang menyenangkan, sebagian besar anak psikologi itu cewek. Jadi kalau ngobrol nyambung banget. Adapun teman-teman yang cowok, mereka banyakan ngalah hahaha. Keikut sama kami yang cewek-cewek ini. Kalau kami ngobrol, mereka terpaksa harus mendengarkan. Kalau kami marah-marah, mereka terpaksa harus bersabar. Kalau kami protes, mereka terpaksa harus mengalah. Kalau motor kami mogok, merekalah yang dorong. Hahahaa. Jadi jangan heran kalau lihat mahasiswa psikologi yang cowok-cowok itu pada baik hati semua. Tertular kebaikan hati mahasiswa ceweknya.
Anak psikologi sudah kodratnya jadi tempat sampah. Karena pengalaman sering jadi tempat sampah dan konselor dadakan bagi siapapun ummat manusia yang ga sengaja ketemu di jalan dan pas kenalan tahu kalau saya kuliah psikologi, maka saya kalau kemana-mana suka pura-pura autis. Hehehe, engga ding. Maksudnya cenderung tenggelam di aktivitas sendiri. Biar ga dideketin orang. Bukannya songong apalagi sok ngetop, tapi entah gimana caranya, ummat manusia di luar sana itu bisa loh mendeteksi keberadaan psikolog-psikolog di sekitar mereka. Begitu mereka tahu di dekat mereka ada anak psikologi, langsung dah mereka mengganggap kami ini penyabar laksana Dewi Kwan Im yang siap sedia mendengar segala permasalahan tumpah darah mereka. Padahal kan engga juga. Psikolog, anak psikologi, atau konselor itu cuma manusia biasa. Kami bisa galau, bisa pula alay. Takdirnya aja kami ini kece-kece #kibasjilbab. Tapi bukan berarti kami selalu full charge untuk jadi tempat sampah orang lain, atau bank solusi untuk permasalahan orang lain.
FYI aja, jadi konselor tuh ga bisa dadakan. Kami para anak psikologi ini, kalau mau praktikum konseling aja persiapannya dari 5 abad sebelumnya. Ga. Itu lebay. Maksudnya kami prepare dari jauh-jauh hari. Mulai dari baca teori, bikin action plan, pelajari teknik konseling, dan lain-lain. Itu susyeeeh. Karena prinsipnya jangan masuk ke kehidupan seseorang kalau kamu engga bisa bantu orang itu untuk nyelesain masalahnya. Konseling itu mirip-mirip operasi bedah. Abis lo bedah, lo acak-acak isinya, harus bisa beresin lagi. Itu.
Jadi anak psikologi juga kadang mengandung beban tersendiri. Terutama dari lingkungan sosial. Orang suka berharap lebih dari seseorang yang belajar psikologi. Kayak yang saya bilang di atas, kami kadang disangka titisan Dewi Kwan Im yang sabaaar banget. Atau titisan pertapa-pertapa yang bijaksana. Waktu di kampus hal ini mungkin ga begitu terasa. Karena rata-rata gaulnya dengan yang seumuran semua. Setelah lulus pasti akan lebih terasa. Terutama kalau kamu cewek, yang notabene akan sering berhadapan dengan ibu-ibu. Ibu-ibu di luar sana tuh ya, saya kasih tahu, hidupnya penuuuh masalah. Hahaha. Kerjaannya curhaaaat melulu. Kalau ga ngomong, capek mereka. Beda dengan bapak-bapak yang cenderung lebih pendiam. Makanya begitu mereka ketemu anak psikologi yang sama-sama perempuannya, siap-siaplah kupingmu panas. Pengalaman saya pernah duduk diam 1,5 jam dengerin emak-emak ngoceh, hahaha.
Capek? Pasti. Tapi kalau kamu anak psikologi yang baik, kamu pasti akan memanjangkan kesabaran, dan membiarkan dirimu mendengar ocehan 1,5 jam emak-emak itu. Karena kamu tahu bahwa 1,5 jam yang kamu dedikasikan untuk menjadikan dirimu tempat sampah seseorang, bisa sangat berarti buat orang itu. Sebab bisa jadi, dia sudah terlalu lama kesepian. Terlalu lama engga punya orang yang bersedia mendengarkan dia bicara. Bahwa dengan bicara itu, kamu berharap dia mendapatkan kelegaannya, dan setelah itu bisa melakukan hal lain dengan penuh semangat. Apalagi karena kamu tahu, sekarang ini betapa sulitnya mencari orang yang mau mendengarkan kita bicara, bukan?
Anak psikologi juga sering dianggap banyak tahu. Ahli masalah hubungan. Untuk persoalan ini, saya sering ngerasa jengah juga. Karena sering dimintai advise sama orang untuk masalah pernikahan dan keluarga. Padahal saya nikah aja belum. Disangkanya orang kalau udah kuliah psikologi tuh berarti kamu udah expert banget. Padahalkan engga. Modal saya cuma kece doang, suerrr. Pengalaman sih nol besar. Cuma menang diteori. Tapi tiap ketemu orang di jalan, dan mereka tahu saya kuliah psikologi, ada dua tema pertanyaan (dan curhat) besar yang akan mereka tumpahkan seketika ke saya: pertama tentang analisis kepribadian, kedua tentang pernikahan. Saking seringnya saya ditanyain tentang 2 hal itu, saya sampai mikir: emang Indonesia ini isinya orang-orang yang bingung sama jati diri dan keluarga mereka yah? Saya kadang suka mesem-mesem kalau harus ngasih advise. Takut kaburo maktan.
Ilmu psikologi ini sebenarnya banyak baiknya kok. Jangan pula dimusuhi 100%. Insya Allah sangat diperlukan untuk perbaikan masyarakat. Jadi buat kamu-kamu yang lagi belajar psikologi, terutama untuk adik-adikku yang masih menimba ilmu di strata satu (ebuset, berasa lagi mau nutup kajian) belajarlah sebaik-baiknya, dik. Tambahkan keilmuan psikologimu dengan pemahaman agama sebanyak-banyaknya. Karena apalah arti banyaknya ilmu dunia yang engkau kuasai, jika ilmu akhiratmu hanya seiprit. Ilmu akhirat itu yang bakal bikin ilmu duniamu jadi punya arah dan tujuan. Ilmu akhiratlah yang akan jadi platformmu dalam mengejawantahkan ilmu dunia. Ingat dik, Allah ghoyyatunna. Kita adalah penduduk surga. Kesanalah kita kan berpulang semoga. Takbir! #plisNia #apadeh -__-
Yah by the way on the way busway, saya seneng jadi anak psikologi. Cuma kalau sekarang lagi ga seneng aja ngerjain tesis, hehehe.
Semangat kerjakan tesis Gan! Thanks Gan. Blogwalking, mampir di blog ane ya Gan! :)
BalasHapusHi kak, aku anak SMA kelas 12 yg skrng sedang nunggu pengumuman kelulusan tahun ini dan bercita-cita untuk memasuki jurusan psikologi saat kuliah nanti. aku tertarik untuk kenal lebih dekat dengan kakak, bisakah kita berkenalan kak? Jst send me some text in my e-mail adindanuruljannati84@gmail.com makasih kak😊
BalasHapuskeren! Pengen ke psikologi sebenernya, tapi gatau deh...
BalasHapusbener deh pengen sekali rasanyaa datang ke dunia psikologi ini
HapusMy blog
Buat penulis dan yg lainnya, ane nulis materi psikologi di
BalasHapusPsikologikita8.blogspot.com
Semoga bisa jadi bahan bacaan dan penambah wawasan. Oh iya, isinya bukan pseudoscience kok
Buat penulis dan yg lainnya, ane nulis materi psikologi di
BalasHapusPsikologikita8.blogspot.com
Semoga bisa jadi bahan bacaan dan penambah wawasan. Oh iya, isinya bukan pseudoscience kok
Haha benerr anak2 psikologi dikira sederajad dgn dukun kalo ketemu dgn orng yg awan... pertanyaan pertama adl berarti isa menebak q dunk?? Weww
BalasHapusHaha benerr anak2 psikologi dikira sederajad dgn dukun kalo ketemu dgn orng yg awan... pertanyaan pertama adl berarti isa menebak q dunk?? Weww
BalasHapusHaha benerr anak2 psikologi dikira sederajad dgn dukun kalo ketemu dgn orng yg awan... pertanyaan pertama adl berarti isa menebak q dunk?? Weww
BalasHapusbagaimana kita meyikapi tentang psikolog ini, terima kasih
BalasHapusMy blog
Beruntung sekali mbak dapat emak emak dengan lebih 1jam lamanya curhat-curhatan. Berarti terbuka sekali ya emak emaknya He. Biar saya tebak emak itu tetangga ya? emang jurusan psikologi citra dalrm banget bagi tetangga aja banyak terkagum2.
BalasHapusSangat bermanfaat untuk saya, terimakasih sudah membuat artikel yang sangat keren.
BalasHapuskeren infonya :)
BalasHapusterimakasih sudah sangat membantu saya
BalasHapusartikel ini sangat membuat saya terkesima, makasih yaa
BalasHapusMy blog
Sangat bermanfaat untuk saya, terimakasih sudah membuat artikel yang sangat keren.
BalasHapusMy blog
Belajar psikologi memang seru dan asik. Berguna dan bermanfaat.
BalasHapusBaca juga:
- Aspek Kognisi Sosial
- Persepsi Sosial dalam Psikologi
- Resolusi Konflik dan Negosiasinya
Terimakasih infonya, jangan lupa kunjungi website kami https://bit.ly/2DKQvRy
BalasHapus