Selasa, 03 Februari 2015

Rumah

Sebagai anak orang Batak tulen, saya ga pernah ngerasa jadi orang Batak. Secara sejak lahir sampai lulus SMA saya tinggal di Manokwari, Papua Barat. Waktu itu namanya masih Irian Jaya. Terus ganti jadi Irian Jaya Barat. Lalu ganti lagi jadi Papua Barat, sampai sekarang.

Yang Batak itu papah mamah saya. Saya engga. Saya ini entahlah orang apa. Bahasa dan adat istiadat orang Batak saya ga tahu sama sekali. Masakan khas sana pun saya jarang makan dan ga bisa memasaknya (ini alibi. Cara lain untuk bilang "saya belum bisa masak macem-macem"). Di rumah papah dan mamah jarang bicara bahasa Batak. Mereka hanya akan bercakap-cakap pakai bahasa Batak kalau mau bikin percakapan tersembunyi dari anak-anaknya. Semacam kode-kodean, istilah kekiniannya. Di rumah kami bicara bahasa Indonesia. Yang tentu saja diselingi ucapan "kau kau" ala Batak oleh papah.

Tapi tinggal di Papua sejak lahir pun engga bikin saya jadi bisa bahasa Papua apalagi mengikuti adat istiadatnya. Mungkin karena teman-teman sepermainan beragam suku bangsanya jadi kami engga terlalu terwarnai oleh budaya tertentu.

Maka saya tumbuhlah jadi orang yang tidak jelas. Semacam generasi muda Indonesia yang tercerabut dari akar budaya suku aslinya.

Saya menyadari itu waktu kuliah antropologi di semester 1. Waktu dosen menjelaskan bagaimana suku bangsa dan adat istiadat mempengaruhi kepribadian seseorang. Dosen antropologi saya yang ganteng dan asli Tasikmalaya tapi mukanya kayak orang Arab itu mengomentari tentang fenomena anak-anak muda yang ga lagi kenal dengan budaya suku aslinya. Waktu itu beliau bertanya tentang asal daerah dan suku kami masing-masing, lalu seorang teman menjawab bahwa dia bingung jika ditanya "orang mana".

Iya ya.. Saya juga sebenarnya sering bingung kalau ditanya orang mana.

Ketika kuliah S1 5 tahun saya tinggal di Jawa Timur. Jadi kenal bahasa dan budaya Jawa Timuran. Lalu pindah ke Jawa Barat 2,5 tahun ini. Kenal juga dengan bahasa dan budaya orang Sunda. Disatu sisi saya ngerasa kaya, karena kenal berbagai budaya. Disisi lain ada yang hilang karena saya ngerasa ga punya satu akar budaya pun. Jadi, saya ini orang apa?

Suatu ketika saya tertegun pas nonton kang Emil diwawancarai di salah satu acara televisi. Beliau bilang "home is where your heart is". Pepatah Inggris. Rumah adalah tempat dimana hatimu berada.

Lalu saya mikir, Papua jelas bukan "rumah" saya. Rumah tempat tinggal orang tua mungkin iya. Tapi "rumah" tempat kembali? Tempat pulang? Tempat hati saya berada? Rasanya engga. Terus Sumatra, itu tanah kelahiran orang tua. Tapi itu juga bukan "rumah" bagi saya. Saya engga berbagi kenangan apapun dengan tempat itu, selain kenangan berlibur sesekali di sana. Jawa Timur. Itu pernah jadi sepenggal "rumah" tempat menuntut ilmu. Kontraknya hanya 5 tahun. Jawa Barat. Sekarang masih "rumah". Tempat menuntut ilmu juga. Tapi who knows kelak angin takdir akan meniup saya kemana.

Jadi, sampai sekarang saya masih mencari rumah. Menurut kamu sebaiknya dimana?

Berbeda Dalam Semua Kecuali Dalam Cinta

Melalui pengalaman yang masih sedikit ini, saya sering ragu, apakah perbedaan-perbedaan bisa berjalan bersisian? Terutama jika perbedaan itu begitu mendasar. Krusial. Esensial. Tauhidi.

Bisakah hari ini kita berdebat keras dengan seseorang, lalu besok kita duduk sebelah menyebelah dengannya sambil tertawa lepas? Bisakah kita begitu tidak sependapat dengan seseorang tentang satu hal, lantas bicara begitu kerasnya hingga mau pecah gendang telinga, tapi saat berikutnya kita bisa berdiri saling membela dengannya atas nama kebajikan yang kita sepakati bersama?

Tapi.. Hari ini saya mengerti.

Perbedaan akan selalu menemukan jalannya untuk menjadi baik-baik saja. Pada akhirnya selalu begitu, bukan? Ketika segala daya ikhtiar basyari yang telah kita kerahkan tidak menghalangi kita dari pemahaman bahwa semua itu selalu bergantung pada irodahNya. Lalu kita insyaf bahwa lakum diinukum waliyadiin. Sebab "tidak ada paksaan dalam beragama" merupakan cara Allah meneguhkan hati para hamba, sekaligus melembutkannya untuk menerima bahwa memang tidak semua orang yang kita cintai pun mencintai agamaNya. Sekeras apapun usaha kita untuk menyampaikan, segala keputusan ada di tangan masing-masing orang.

Lalu pada akhirnya saya sadar, kita memang berbeda sejak awal. Dan akan terus berbeda dalam semua. Kecuali, dalam cinta..