Minggu, 11 November 2012

6, 7, 8...

Aku sedang rindu.
Pada dering telepon genggam dipagi buta membangunkan kala subuh.
Pada ikan sambal goreng yang selalu ada di meja makan.
Pada sepotong kenangan yang tiba-tiba hadir malam ini: kita berempat duduk bersama dalam Katana hijau tua, mengelilingi kota kecil tepi pantai kita, berbincang, tertawa, bicara tentang rencana-rencana masa depan.

Katamu kau mau tinggal di sebelah rumahku kelak.
Agar ada yang menjaga anak-anakku ketika aku berangkat kerja.
Kau bilang Suzuki Karimun warna pink mungkin cocok untukku pergi ke kampus. Aku tertawa mendengarnya. Aku kan tidak bisa nyetir mobil.
Kau bilang kita belum pernah jalan-jalan ke Bogor. Jawabku, ayo agendakan liburan kesana.

Waktu itu kali terakhir aku datang ke kantormu.
Membereskan barang-barang pribadimu yang mungkin tersisa.
Hatiku hancur lebur.
Tapi airmata kutahan kuat-kuat.
Bagaimana tidak, semua teman-temanmu ada disana menyaksikan aku mengumpulkan satu demi satu barang-barang itu.
Tatapan mereka saja sudah cukup melelehkan hati.
Aku tidak mau dikasihani.

Tapi hatiku tidak bisa berhenti gerimis kamis kemarin.
Saat kalender menunjukkan tanggal 6, 7, 8 bulan november.
Hari jadi kita.
6 untuk bungsumu.
7 untuk aku.
8 untuk hari pernikahan kalian.
Bagaimanakah aku tidak menangis hingga jatuh tertidur kamis itu?
Aku rindu padamu...

Kamis, 08 November 2012

Sehabis Baca Indonesia Incorporated

 Kemarin seorang teman meminjamkan novel ini ke saya. Sebagai barter buku Muhaimin Iqbal saya yang dia pinjam. Sudah lama saya ga baca novel, apalagi novel2 yang konon katanya islami (agak jengah juga, karena "novel islami" sekarang isinya banyakan cinta2an). Rekomendasi teman saya: novel ini bagus banget! Merangkai fiksi dan fakta tentang program lingkungan hidup yang "ternyata adalah manipulasi sekelompok elit untuk menuju Tatanan Dunia Baru". Sebagai aktivis islam, teman2 pasti tahulah terminologi Tatanan Dunia Baru itu.

So, saya baca novel ini disela2 kuliah profesi yang melelahkan itu *curcol. Dan subhanallah, isinya memang cakap sangat. Suka kali lah saya membacanya. Banyak hal tentang Global Warming yang sebelumnya saya anggap benar 100% itu ternyata adalah rekayasa s
ekelompok orang yang rasis, setidaknya itulah hasil investigasi sang penulis novel. Novel ini setipe dengan novelnya Dan Brown (The Davinci Code yang fenomenal itu).

Saya belajar banyak setelah baca novel ini (sembari berkejaran dengan waktu menyelesaikan setumpuk laporan praktikum yang bujubuneee banyak amiiirr). Itu membuat saya semakin menyadari betapa negara ini sangat membutuhkan kita selaku muslim2 terdidik yang berpikiran terbuka untuk bekerja keras mengelola segala sumber daya alamnya. Betapa ummat ini sudah dikerjai habis2an oleh segelintir orang2 rasis. Betapa besaaaaarnya tugas menanti di luar sana. Mendadak segala persoalan di kampus (vmj, kader futur, capek ngurusin amanah, dan lain-lain) menjadi kelihatan kecil sekecil kutu. Benar memang kata Sayyid Quttub: "Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tapi orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar."

Nah, demikian celoteh singkat dari saya hari ini (singkat? Iya, hehe). Kurang dan lebihnya mohon maaf sangat lah ya. By the way, akhir2 ini kangen sekali dengan Malang :)

Salam hangat, Nia.