Pada dering telepon genggam dipagi buta membangunkan kala subuh.
Pada ikan sambal goreng yang selalu ada di meja makan.
Pada sepotong kenangan yang tiba-tiba hadir malam ini: kita berempat duduk bersama dalam Katana hijau tua, mengelilingi kota kecil tepi pantai kita, berbincang, tertawa, bicara tentang rencana-rencana masa depan.
Katamu kau mau tinggal di sebelah rumahku kelak.
Agar ada yang menjaga anak-anakku ketika aku berangkat kerja.
Kau bilang Suzuki Karimun warna pink mungkin cocok untukku pergi ke kampus. Aku tertawa mendengarnya. Aku kan tidak bisa nyetir mobil.
Waktu itu kali terakhir aku datang ke kantormu.
Membereskan barang-barang pribadimu yang mungkin tersisa.
Hatiku hancur lebur.
Tapi airmata kutahan kuat-kuat.
Bagaimana tidak, semua teman-temanmu ada disana menyaksikan aku mengumpulkan satu demi satu barang-barang itu.
Tatapan mereka saja sudah cukup melelehkan hati.
Aku tidak mau dikasihani.
Tapi hatiku tidak bisa berhenti gerimis kamis kemarin.
Saat kalender menunjukkan tanggal 6, 7, 8 bulan november.
Hari jadi kita.
6 untuk bungsumu.
7 untuk aku.
8 untuk hari pernikahan kalian.
Bagaimanakah aku tidak menangis hingga jatuh tertidur kamis itu?
Aku rindu padamu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar