Seperti air hujan yang jatuh ke bumi. Begitulah
prof Al Attas menganalogikan jiwa-jiwa kita seharusnya. Kebutuhan kita akan keterhubungan
dengan Dia yang Maha Daya diibaratkannya seperti siklus air hujan. Benda cair
apapun di muka bumi ini, sesuai fitrahnya akan mengalami penguapan. Dengan kerja
panas sinar matahari, air laut, air sungai, air dalam gelas, air comberan, air
mata, air seni, air bersih, air kotor, dan air-air lainnya menguap. Naik ke
langit menembus atmosfir bumi lapis pertama. Di sana air-air dari manapun itu
berkumpul dan bersatu. Tidak ada beda dari comberan atau dari gelas kaca air
itu berasal. Dan melalui sebuah proses pemurnian, mengembunan, kemudian
pengristalan, tidak tersisa lagi identitas lama mereka. Tidak ada air kotor atau
air najis di atas sana. Semuanya menjadi suci dan murni.
Air-air
bumi itu kemudian berubah bentuk menjadi awan di langit. Melalui waktu yang tak
berapa lama, awan-awan akan semakin berat, semakin besar. Kandungan airnya
semakin banyak. Hingga satu titik ketika air langit tidak mampu lagi berkumpul
sebagai awan, maka dengan titah Tuhannya mereka turun beramai ke bumi. Sebagiannya
jatuh di laut, di sungai, di daratan. Sebagiannya meresap ke dalam tanah
menjadi air tanah yang akan keluar sebagai air minum nan menyegarkan,
sebagiannya menghidupkan tanaman yang sempat layu, sebagiannya meredakan
gelisah kota dan desa akibat panas yang membara. Dimanapun air langit itu
jatuh, ia menjadi keberkahan di situ. Hidup lagi menghidupkan. Segar lagi
menyegarkan. Kita menyebutnya hujan.
Begitulah
seharusnya jiwa-jiwa seorang muslim dalam kaitan akan keterhubungannya dengan
Sang Pencipta. Laksana hujan. Jiwa kita hidup di bumi yang panas, ramai, lagi
menggelisahkan. Setiap kita berhadapan dengan berbagai macam cobaan dan ujian
kehidupan. Kita butuh satu waktu dimana jiwa kita naik ke langit, menyerap
energi dari Tuhan sembari berkumpul bersama jiwa-jiwa baik lainnya, untuk
setelahnya kembali lagi ke dunia nyata dengan kesehatan akal dan hati.
Air
yang tidak naik ke langit untuk menjadi hujan akan menjadi air yang pekat. Kandungannya
memadat. Tidak enteng. Air itu akan menjelma menjadi kotor dan sumber
keburukan. Seperti itu juga jiwa bumi yang tidak naik tersambung dengan
langitnya.
Saya
berada di beranda surga siang tadi. Sedang menjadi air bumi yang berkumpul bersama
air-air lainnya di langit. Mencoba memurnikan diri. Mencoba berniaga dengan Dia
yang Maha Memberi Keuntungan. Berdekat-dekat dengan jiwa-jiwa baik lagi
membaikkan. Sungguh surga sebelum surga itu ada. Dan berkumpul bersama
orang-orang sholeh adalah salah satunya. Itu ibarat langit yang mengubah air
bumi jadi hujan.
Bandung
dan Jatinangor sedang tidak hujan. Tapi saya merasa seperti baru saja mandi
hujan. Segar dan bahagia. Seperti anak 8 tahun yang biasa lari-lari kegirangan
saat hujan turun. Bagaimanakah kamu bisa merasa sendirian? Sedang Tuhanmu
bersertamu dimanapun engkau berada. Bagaimanakah kamu bisa merasa kegetiran? Sedang
tidak ada lagi nikmat Tuhanmu yang bisa engkau dustakan.
Iya,
no body wants to be lonely. Tidak ada seorang pun yang mau bersendiri. Tapi apakah
berbanyak diri adalah tujuan penciptaan hakiki? Tidak.. Tujuan kita adalah
surgaNya. Dan dunia ini hanyalah jalannya.
Terinspirasi dari meninggalnya seorang selebritis Hollywood.
..are you sure you are alone?..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar