Jumat, 05 September 2014

Buldoser Keras Hati



Konon katanya tangis yang paling menyedihkan adalah tangisan yang tidak mengeluarkan suara dan air mata. Begitu kata buku yang pernah saya baca. Well laki-laki paling ahli soal ini. Mereka itu ayam jago yang pemalu.

Konsekuensi dari menjadi seorang (calon) psikolog dimulai pada 5 menit pertama perkenalanmu dengan seseorang. Dimanapun kamu berkenalan dengan orang tersebut, begitu mereka tahu kamu mahasiswa psikologi, detik itu juga kamu harus siap mendengar apapun dari mereka. Orang-orang akan berharap sesuatu darimu: pencerahan dan kata bijak, misalkan. Atau sekedar duduk diam dan mendengarkan mereka bicara. Ekstrimnya, beberapa orang akan menyangka kamu laksana patung Dewi Kwan Im yang amat tabah mendengar segala keluh kesah. Walaupun yah, sebagian besarnya akan mengira kamu mirip-mirip cenayang alias paranormal, lalu mereka akan mengajukan pertanyaan paling mainstream sedunia: menurut kamu, aku orangnya gimana?

Sepotong takdir mengantarkan saya pada pertemuan dengan seorang bapak tinggi besar bertangan kokoh bergengsi tinggi. Suaranya menggelegar membahana, cocok dipakai sebagai pengganti TOA. Padangan matanya tajam menyelidik. Kerut-kerut di sudut matanya dan rahangnya yang tegas memperjelas kesannya yang seperti orang jahat.

Pertemuan tidak sengaja di kereta dalam perjalanan Bandung-Yogyakarta terjadi waktu saya dengan cerobohnya hampir patah leher gara-gara mau ketimpa ransel sendiri. Waktu mau menaikkan ransel 7 kilo itu ke kompartemen atas, saya kurang hati-hati. Akibatnya ransel berat itu mau jatuh. Alhamdulillah si bapak yang kebetulan juga sedang menaikkan ransel, dengan sigap menangkap ransel itu sebelum jatuh mematahkan leher saya. Suara menggelegarnya menyemprot saya: “hati-hati mbak!”. Glek. Saya nelan ludah. Syoknya dua: hampir ketimpa ransel, dan kena semprot bapak-bapak segede buldoser.

Rupanya bapak ini teman sebelah bangku saya. Selama hampir 3 jam berikutnya saya duduk sebelahan dan mendengarkan ceritanya yang mengalir panjang lebar. Waktu dia membuka percakapan dengan saya, saya sudah duga bapak ini keras dan tegas. Waktu dia mengangsurkan tangannya untuk salaman, yang saya balas dengan menangkupkan tangan depan dada lalu dia menarik tangannya kembali dengan kening berkerut, saya bisa melihat tangannya yang kokoh dengan urat-urat bertonjolan. Poin pertama. Oke, gw lagi berhadapan dengan seorang pekerja keras, batin saya bersiap-siap. Hehehe sori kebiasaan observasi sudah mendarah daging dalam diri. Akibat bersemester-semester kuliah tentang itu (lalu lulus dengan nilai B, hiks).

Well status sebagai mahasiswa psikologi akan membuatmu cenderung mudah mendengar apapun dari siapapun. Entah mengapa orang-orang akan mudah mempercayakan curhat mereka padamu hanya karena kamu seorang mahasiswa psikologi. Tidak butuh waktu lama bagi saya sampai kemudian bapak itu membuka ceritanya. Dibalik suara menggelegarnya, mata tajamnya, wajah kriminalnya (hehe) saya bisa menangkap kepedihan yang pekat dari ceritanya.

Persoalan rumah tanggalah yang mengantar si  buldoser keras hati ini menuangkan semua ceritanya pada saya di kereta sore itu. Dia seorang bapak dengan 5 orang anak yang pekerjaannya sebagai menejer distribusi perusahaan ekspedisi. Dia sedang dalam proses perceraian dengan istrinya. Masalahnya ada di titik ini: perceraian.

“Saya ga tahu istri saya maunya apa. Saya kerja keras banting tulang untuk menafkahi keluarga. Tapi dia merasa saya tidak pengertian dengan keluarga. Dia ingin saya begini dan begitu. Padahal anak kami 5, semuanya butuh biaya untuk sekolah. Saya kalau pulang ke rumah sudah dalam kondisi capek. Tambah pusing saya kalau tiap pulang istri kerjaannya marah-marah terus. Saya akui saya sering membentak dia, kadang di depan anak-anak. Anak-anak juga sering kena bentak saya. Bukan karena saya tidak sayang dengan mereka. Tapi saya orangnya memang begini. Pekerjaan saya menuntut saya untuk teliti dengan kerja anak buah. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Semua harus tepat waktu, harus sempurna. Karena kami ini perusahaan ekspedisi. Terlambat sedikit bisa fatal akibatnya. Saya akui situasi pekerjaan memang terbawa ke rumah. Karena sering bentak-bentak anak, anak saya pada takut semua sama saya. Kalau saya di rumah, mereka engga ada yang berani dekat-dekat. Kalau saya nonton tv, mereka pada mencar semua. Istri saya pernah bilang kalau anak-anak takut sama saya. Istri ingin saya berubah, tapi saya heran sama dia, berubah bagaimana maksudnya?! Kalau dia nuntut saya berubah, dia juga harus mau berubah. Lha dia sendiri sering jarang di rumah. Sibuk sama kerjaannya di kantor juga. Kok berani dia nuntut saya untuk fokus ke keluarga?!” menggelegar membahana suara buldoser ini ketika cerita. Tangannya terkepal. Saya sambil dengerin ceritanya sambil pasang kuda-kuda. Siapa tahu tanpa sadar dia ngelempar sesuatu, atau mencekik saya saking emosinya. Alhamdulillah di sekitar kami tidak ada pisau, gergaji, dan sejenisnya.

“Saya dan istri sering banget bertengkar. Hampir tiap hari. Puncaknya waktu 4 bulan lalu dia minggat ke rumah orang tuanya. Anak-anak dibawa semua. Cuma anak perempuan yang paling besar yang tinggal di rumah sama saya, itupun dengan terpaksa karena jarak kampusnya lebih dekat ke rumah kami dibanding rumah nenek mereka. Waktu istri nuntut cerai, saya syok. Ga nyangka sama sekali. Saya stres. Apa maksudnya mau pisah sama saya?! Saya udah biayain dia dan anak-anak selama ini. Kok tega dia ninggalin saya? 4 bulan ini hidup saya berantakan. Pikiran saya penuh. Di kantor banyak teman-teman yang tahu istri ajukan cerai. Istri saya ngember kemana-mana. Saya malu. Saya ini atasan, tapi bawahan pada ga hormat semua sama saya gara-gara urusan rumah tangga ini ketahuan. Mau ditaruh dimana muka saya?! Saya ga masuk kantor seminggu gara-gara malu. Tapi akhirnya tetap harus masuk kantor karena saya ga mau dipecat. 2 minggu lalu anak buah pada demo ke atasan. Kata mereka saya tambah kejam. Padahal kan saya hanya bersikap tegas, biar kerjaan lancar dan beres.”

“Kata istri saya ga cinta sama keluarga karena suka marah-marah. Siapa bilang?! Saya cinta sama anak-anak dan istri! Kalau ga cinta, ga akan jadi anak 5! Saya ga ngerti apa maunya istri. Selama istri minggat, rumah sepi. Saya tambah stres.” Bapak itu meraih botol air mineralnya dan minum dalam tegukan besar-besar. Saya mengamati raksasa keras kepala itu. Ah well, tipically man..

Poin kedua. Oke, gw lagi berhadapan dengan pekerja keras yang keras kepala dan tidak tahu caranya berhadapan dengan keluarga, batin saya.

“Saya sering tidak bisa tidur malam-malam karena mikirin urusan keluarga ini. Pusing kepala saya. Ga tahu mesti gimana.” Lanjutnya. Saya menimbang-nimbang, kalau saya bilang dia coba tahajud, kira-kira doi ngerti ga ya..?

“Saya sering mikir, apa salah saya sampai dapat cobaan hidup kayak gini?” Sambungnya lagi. Refleks saya berdehem, oh.. dia belum ngeh salahnya dimana..

“Jadi menurut mbak saya harus gimana?” matanya yang tajam memandang saya. Aah, mulai darimana yaa.
*****

Kami pun ngobrol.

Bapak itu diam sekian detik. “Gitu ya mbak..?”

“Insya Allah begitu pak.” Kata saya.
*****

Ah si bapak buldoser yang keras hati..

Ketika dia memutuskan untuk menikah dengan istrinya, seharusnya dia tahu dia akan menghabiskan sisa umur dengan istrinya itu. Mereka akan menua bersama. Jadi tidak ada yang salah dengan mencoba belajar bersikap lemah lembut. Itu bukan tanda kelemahan. Tidak ada yang salah juga dengan perubahan jika itu menuju kebaikan. Perubahan itu bukan tanda kekalahan.

Saya pikir bapak itu perlu merubah sudut pandangnya mengenai lemah dan kalah.
*****

Lalu kami berdua diam dalam sisa perjalanan itu. Saya membiarkannya berdiskusi dengan pikirannya sendiri. Kasihan ayam jago ini.. Tampangnya memang agak kriminal, suara menggelegar dan sikap kerasnya memang agak menakutkan, tapi sebenarnya dia baik. Dia cinta keluarganya. Dia hanya tidak tahu bagaimana cara terbaik mencintai mereka. Ketidaktahuannya melahirkan ketidakbahagiaan bagi dia dan keluarganya. Kesalahan dia adalah, tidak melanjutkan belajar tentang hidup. Dia memilih bertahan dengan sikap keras kepalanya. Padahal hidup akan jauh lebih mudah kalau dia terus belajar, bukan? Well itulah sebabnya kenapa ada istilah: tarbiyah madal hayah. Long life education. Belajar sepanjang hayat.

Tanpa sadar saya ketiduran. Terbangun beberapa jam kemudian karena ditowel-towel cleaning servis. Gerbong sudah sepi. Tinggal saya doang bersama petugas cleaning servis yang bawa-bawa tempat sampah. Si bapak sudah turun duluan. Mm, saya lupa namanya... Dia ga bangunin saya??

Saya sering ketemu banyak orang dengan beragam cerita dalam perjalanan-perjalanan. Entah itu di kereta, pesawat, bis, bahkan angkot. Dari mereka kita (seharusnya) bisa mengambil banyak pelajaran.


*ketika selesai mengetikkan ini jelang magrib di Moby Cafe (yang wifi-nya ga nyala) saya ingat hal penting: there’s a lot of things you have to learn before take that responsibility. One simple decision will change your life, maybe the whole. That will leads you to happiness, or miserables.

Pas mau cabut dari Moby, refleks saya lirik folder tesis: aiiih kamu lagiii. Kapan kelarnya siiih -___-“

Tidak ada komentar:

Posting Komentar