Selasa, 01 April 2014

Mr Lonely Heart dan Miss Heart Attack

Cerpen.

                Tidak ada seorang pun yang akan mau punya hidup seperti hidupku. Membosankan, kata seorang teman dahulu. Yeah sebenarnya dia bukan teman juga. Hanya seseorang yang kebetulan pernah dekat sebentar akibat terpaksa satu kelompok tugas kuliah denganku di jurusan teknik informatika. Dia mengatakan itu setelah selama satu semester harus sudi sekelompok denganku karena kehabisan teman lain untuk diajak berkelompok tugas. Dia mengatakannya sewaktu datang ke kamar kosku yang sederhana untuk mengerjakan tugas algoritma pemrograman, pada suatu sore.
            “Kamarmu cuma ini isinya?” Andika mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarku. Isinya memang tidak banyak. Selembar kasur tipis, sebuah rak buku 3 tingkat yang isinya gabungan buku-buku kuliah dan buku bacaan lain yang kupunya, sebuah lemari pakaian plastik 4 susun, meja lipat tempat laptopku bertengger, dan sebuah galon di pojok kamar.
            “Iya.” Jawabku singkat dan datar. Kupersilahkan anak itu duduk di lantai yang tidak berkarpet. Menghadap meja lipat kecilku.
            Andika mengalihkan pandangannya dari mengamati kamar dan menatap langsung ke mukaku. 2 menit dia menahan pandangannya seperti berpikir keras. Kemudian cowok berkaca mata itu bicara dengan nada final yang putus asa: “Setelah hampir satu semester bareng-bareng sama kamu, akhirnya aku mengambil kesimpulan. Sori kawan, tapi hidupmu membosankan sekali.”
*****
            Namaku Angkasa. Angkasa Rajawali. Sebuah nama hebat pemberian kedua orang tua yang sekarang sudah tidak ada dua-duanya. Ayahku meninggal ketika aku masih SMP dan ibuku meninggal 3 tahun lalu, waktu aku baru bekerja setahun di kantorku yang sekarang. Aku anak tunggal. Tidak punya kakak, tidak punya adik, dan jauh dari sanak famili lain. Sudah 4 tahun ini aku merantau di Bandung. Jauh dari kota kelahiran di Malang, Jawa Timur. Bekerja sebagai web developer sebuah perusahaan yang cukup ternama. Sehari-hari aku berangkat ke kantor jam setengah 7 pagi dan baru kembali ke kosan malam hari. Sebenarnya waktu kerja sampai jam 5 sore. Tapi aku suka menghabiskan waktu di kantor sampai malam tiba. Tidak ada apa pun yang menungguku di kamar sempit di pojok Cileunyi sana.
            Hidupku persis seperti kata temanku Andika, membosankan. Sejak kecil aku jarang punya teman. Aku berangkat sekolah pagi hari, pulang siang hari, dan mendekam di rumah hingga besok pagi lagi. Aku tidak punya banyak teman. Tidak banyak orang yang mau berteman dengan anak yang biasa pindah-pindah sekolah sepertiku. Pekerjaan ayah memang mengharuskan kami sekeluarga sering berpindah kota. Karena sering berpindah-pindah itulah aku kurang luwes bergaul dengan orang lain. Sebab baru sebentar tinggal di suatu tempat, baru akan beradaptasi dan mencari teman, aku sudah harus pindah ke kota lain. Aku pendiam dan penakut. Tidak adapatif dan akan memilih menjadi invisible man dimanapun aku berada.
            Di kantor pun demikian. Aku tidak suka tampil di depan umum. Pekerjaanku sebagai web developer sangat mendukung hal ini. Sebab aku hanya perlu duduk diam di depan perangkat kerja dan tidak harus berhadapan dengan banyak orang. Sebenarnya aku mau berinteraksi dengan orang lain. Hanya saja aku sering tidak tahu bagaimana caranya. Rasanya canggung dan kikuk jika harus memulai pembicaraan lebih dulu. Karena itu aku memilih diam dalam segala bentuk interaksi dengan orang lain. Lama-lama aku jadi akrab dengan tenang dan sunyi.
            Aku tinggal di sebuah rumah kos sederhana di daerah Cileunyi, Bandung Timur. Lumayan jauh dari tempatku bekerja. Tinggal disana karena tempatnya cukup nyaman, tenang, dan biaya sewanya relatif murah. Lagipula aku lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dibanding kamar. Kamar ini hanya sebagai tempat tidur selepas pulang kerja. Ibu kosnya pun baik. Aku adalah penghuni kosan paling lama. Kosan ini punya 5 kamar. Yang terisi 3.
Teman sebelah kamar kosku adalah seorang mahasiswa geologi Unpad Jatinangor. Tinggi ceking. Kemana-mana selalu pakai jaket fakultasnya yang orange terang dan seperti jaket anak gunung itu. Orangnya kuduga punya indra keenam: punya kemampuan membaca pikiran orang lain. Aku yang canggung ini pernah suatu kali lewat di depan kamar kosnya waktu dia baru pindah kesini. Dalam hati aku bergumam, kenapa mahasiswa ini ngekos jauh dari daerah kampusnya? Baru hatiku bergumam begitu, tiba-tiba kepalanya muncul dari celah pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Senyum lebar bertengger di bibirnya, dan dia menyapaku: “Halo bang, namaku Anggiat Siregar. Panggil saja aku Giat. Aku semester 3 di geologi Unpad. Aku pindah kesini karena suntuk aku sama lingkungan kampus itu. Rapat-rapat kali kosan disana. Banyak pula orang-orangnya. Sesak napas aku bang, kalo lingkungan tempat tinggal terlalu ramai. Jadi pindahlah aku kesini. Kosan ini aku dapat setelah hunting-hunting 4 hari. Tak apalah jauh dikit. Yang penting tenang suasananya.”
            Aku syok mendengar salam pembukanya yang panjang lebar, dan hanya mengangguk sebagai responnya. Kemudian dia berkata lagi, “ Kenalan dulu lah kita, bang. Abang siapa namanya?”.
            “Angkasa...” Jawabku.
            “Wah bagus kali nama abang. Gagah. Pasti dalam maknanya ya, bang. Ngomong-ngomong enaklah kita ini, bang. Cuma sedikit orang yang kos disini. Jadi tentram suasananya. Enak buat aku belajar, enak pula buat abang istirahat sepulang kerja. Kata ibu kos abang kerja di perusahaan besar ya? Wah mantap itu. Kapan-kapan ajari aku utak atik komputer ya bang. Aku tak terlalu bisa masalah komputer. Bisaku nimbang-nimbang batu saja, hahaha. Maklum anak geologi.”
            Detik itu juga aku tahu kalau hari-hari damaiku di kosan ini tidak akan sama lagi seperti sebelum si Batak itu datang.
            Dan nampaknya Giat selain punya kemampuan membaca pikiran, dia juga mampu meramal masa depan. Dia nampaknya punya radar untuk tahu kapan aku lewat di depan kamarnya untuk keluar atau masuk kosan,  dan dia sama sekali tidak canggung menyapaku panjang lebar. Dia seperti tahu bahwa aku akan lewat disitu. Anak yang ramah memang. Mengimbangiku yang susah berbicara. Tapi agak mengganggu juga sebab ketenangan selama beberapa tahun kos disitu jadi terganggu oleh kehadirannya. Yah memang aku harus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru dimana ada seorang mahasiswa Batak jurusan geologi yang hobi bicara tinggal tepat disebelah kamarku.
            Selain Giat, seorang penghuni kos lain adalah Satria. Pegawai kantoran juga sepertiku. Pegawai bank. Anaknya lumayan baik, tidak terlalu banyak omong seperti Giat. Layaknya aku, dia biasa pergi pagi pulang malam. Akhir pekan biasa dihabiskannya dengan tidur ngorok seharian. Kalau sudah ngorok, bisa sampai kedengaran ke kamarku.
            Hari-hariku selama ini berjalan layaknya rutinitas yang biasa. Hingga di suatu sore libur yang kupakai untuk tidur seharian di kamar, sebuah suara gaduh terdengar persis di depan kamarku. Di depan situ ada kamar kosong yang sudah hampir setahun tidak diisi. Jarak kamar depan dengan kamarku sekitar 3 meter. Di tengah-tengah, ibu kos meletakkan sebuah meja tempat biasa beliau membagi penganan kecil dengan kami para penghuni kos. Aku mendengar suara kardus-kardus yang dihempaskan ke lantai, suara benda berat yang digeser, suara klontang-klanting entah apa, dan... suara perempuan. Suara perempuan??
            Aku menajamkan pendengaranku. Terdengar ibu kos sedang bercakap-cakap dengan suara perempuan.
            “Makasih banyak ya ibu untuk bantuannya. Ibu jadi bantu angkat-angkat barang saya.” Suara yang agak melengking, bernada ramah dan riang.
            Ibu kos menjawab, “Iya ga apa-apa. Ibu senang bisa bantu. Eneng kalo ada apa-apa jangan sungkan ngomong ke ibu ya.”
            “Iya bu, pastinya. Terima kasih banyak ya bu.”
            “Sama-sama, neng. Ibu tinggal dulu ya. Eneng beres-beres atau istirahat aja. Assalamualaikum.”
            “Waalaikum salam.”
            Lalu terdengar langkah kaki ibu kos menjauh. Aku terpaku di tempat tidurku. Ada  perempuan di kos laki-laki? Pelan-pelan aku bangkit dari tempat tidur menuju jendela. Bermaksud mengintip ke depan. Aku penasaran. Baru aku menyibakkan sedikit tirai jendela, aku terkejut kaget dan tersontak mundur mendapati sebentuk wajah dengan mata bulat penuh dibingkai kerudung pink bertengger persis beberapa jengkal dari mukaku.
            “Astaghfirullahal adziim!” jeritnya.
            “Astaghfirullahal adziim!” seruku.
            Kami sama-sama terlonjak kebelakang. Sedetik kemudian aku mendengarnya tertawa terbahak diluar sana. Aku melangkah ke pintu dan membukanya dengan penuh keheranan. Mendapati sebentuk makhluk manis berkerudung pink berdiri di depan kamarku sambil tertawa.
            “Maaf ya mas, maaf kalo bikin kaget.” Katanya riang. Tawanya masih tersisa. Aduh jantungku jungkir balik. Kombinasi antara wajah manis berkerudung, tawa riang, dan suara penuh semangat itu membuat waktu seakan terhenti beberapa detik di sekitarku. Jantungku pindah tempat ke kerongkongan. Makhluk apa ini..?
            Si kerudung pink menatapku dengan bingung selama beberapa detik. Dia melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku. “Mas? Masnya ga kenapa-kenapa kan?” katanya. Aku tersadar dengan perasaan malu bukan main. Norak!, batinku merutuk.
            “Eh eh iya.. Gak papa..” jawabku kikuk. Aku terdiam. Tidak tahu harus berkata apa atau berbuat bagaimana. Canggung seperti biasa. Gadis dihadapanku itu tersenyum manis dan berkata: “Kenalkan, saya Malikah. Selama 2 bulan kedepan saya akan ngekos disini. Maaf ya kalo tidak nyaman ada perempuan di kosan laki-laki. Tadinya saya mau ngekos di kosan putri yang depan sana. Tapi kamarnya masih penuh. 2 bulan lagi baru ada yang kosong. Sedangkan saya sudah harus kerja minggu depan. Setelah muter-muter akhirnya ketemu sama ibu kos disini dan ditawarin ngekos sementara di kosannya. Kata si ibu, memang kosan laki-laki tapi orangnya baik-baik dan sopan. Jadilah saya mau. Tenang aja, saya ga bakalan ngapa-ngapain. Oiya, saya dari Surabaya. Sebelumnya sempat kerja di Surabaya dan resign cari kerjaan di Bandung. Alhamdulillah dapat. Salam kenal ya mas.”
            Waw. Aku mendengarkan penjelasan dengan bingung. Gadis ini perkenalan pertamanya panjang sekali, Aku hanya mengangguk sebagai respon. Aku harus apa?
            “Nama masnya siapa?” tanya Malikah.
            “Angkasa..” jawabku.
            “Angkasa?”
            “Iya.. Angkasa.. Rajawali..”
            “Wah subhanallah. Keren banget namanya. Gagah. Kalau saya Malikah Putria. Saya punya adik laki-laki lho di Surabaya. Namanya Malik Putra. Heheheh, ga kreatif ya orang tua kami ngasih nama. Samaan gitu.” Terangnya sambil tertawa tanpa kuminta. Aku hanya berdiri memandangnya dengan kikuk. Dia sedang bercanda? Harus seperti apa menanggapi candaan seorang perempuan?
            “Aduh maaf ya mas, saya kebanyakan ngomong ya. Padahal tadi kesini rencananya cuma buat kenalan aja, sekalian mau pinjam sapu. Saya belum beli sapu, mas.”
            Aku masuk ke dalam kamar dan keluar membawakan sapu untuknya. Malikah menerima sapu itu sambil tersenyum. “Terima kasih ya mas. Pinjam bentar ya sapunya. Oiya, jangan sungkan-sungkan lho mas kalo ada perlu apa-apa ke saya. Selama bisa bantu, insya Allah saya bantu. Mari mas, saya ke kamar dulu.” Dia pun kembali ke kamarnya.
            Aku menutup pintu kamarku. Selama 10 detik aku berdiri di tengah kamar dengan ganjil. Pertama, bukankah aku yang seharusnya bilang ke dia jangan sungkan jika butuh bantuan? Kan yang penghuni lama kosan ini aku. Kedua, kenapa jantungku rasanya jungkir balik terus dari tadi gara-gara gadis itu? Ketiga, bagaimana jalan hidupku 2 bulan kedepan bila ada makhlus manis nan banyak omong tinggal 3 meter di depan kamarku, dan seorang mahasiswa yang juga tak kalah banyak omongnya tinggal persis di sebelah tembokku? Aku menarik napas panjang. Sebelah kamar ada si Batak. Di depan ada si kerudung pink. Aku merindukan kosanku yang damai...
            Tidak berapa lama, terdengar suara berisik di depan kamar. Sepertinya Malikah menyenggol sesuatu dan jatuh. Dia heboh sendiri mengatasi barang jatuh itu. Ngomel-ngomel pada dirinya sendiri. Kemudian ada suara-suara lain, gedebak gedebuk tanda benda-benda berat sedang diangkat dan dipindahkan. Lalu ada suara barang jatuh kembali. Kuduga kali ini sebuah kaleng, karena bunyinya klontang keras begitu. Lagi-lagi aku menarik napas. Gadis itu bisa bikin aku sakit jantung.
            Sejak saat itu, setiap pagi hendak berangkat ke kantor aku harus mewaspadai 2 orang. Si Giat yang suka mencegatku minta diajari utak atik komputer, dan Malikah dengan senyum lebarnya dan kerudungnya yang selalu berwarna permen. Tapi kalau Giat aku tidak begitu khawatir. Sebab anak itu jarang bangun pagi jika tidak ada kuliah pagi. Tapi Malikah, setiap pagi aku akan berpapasan dengannya di pintu depan kosan. Sama-sama mau berangkat kerja. Dan tiap kali berpapasan dengannya, jantungku rasanya mau pindah ke kerongkongan.
Dia bekerja sebagai editor buku di sebuah penerbitan. Aku tidak pernah paham bagaimana seorang gadis yang begitu ribut bisa punya pekerjaan sebagai editor yang harus penuh ketenangan dan konsentrasi.
            Kebiasaannya adalah menyapaku lebih dulu.
“Hai, mas.”. “Assalamualaikum, mas.”. “Pagi, mas.”
Ya memang selalu begitu. Dan sapaannya selalu kujawab sekenanya. Lalu kami akan sama-sama berdiri di pinggir jalan menunggu bis yang menuju arah Kalapa. Kadang dia mengajakku ngobrol. Lebih sering kami berdiam diri. Mungkin dia capek juga mengajakku berbicara.
Baru 3 minggu dia kos disini tapi aku sudah hafal sebagian kebiasaannya. Setiap selasa dan jumat dia akan menawariku sesuatu sebagai sarapan atau bekal. Entah itu roti bakar buatannya, atau beberapa potong buah, atau seperti di minggu lalu, dia memberiku sebotol jus melon yang botolnya berwarna pink bunga-bunga. Dia membuatnya sendiri dan sengaja membotolkan 2 jus. Katanya memang khusus diberikan kepada teman kosnya yang baik, yaitu aku. Mengapa menurutnya aku baik? Sebab aku sudah meminjamkannya sapu di hari pertama ia ngekos. Malikah mengatakannya sendiri padaku sewaktu kami sama-sama menunggu bis. Aku rasanya mau terbang mendengar dia berkata begitu. Tidak banyak orang bersedia memujiku baik.
Aku selalu salah tingkah menghadapi si manis berkerudung itu. Dia baik hati sekali. Dan polos. Dan banyak bicara. Dan ramai. Dan ribut. Selama 26 tahun hidupku yang membosankan dan penuh rutinitas ini, aku tidak pernah bertemu makhluk yang sangat unpredictable sepertinya. Dia begitu bersemangat. Tingkahnya sulit ditebak. Tapi sangat manis dan hangat.
Jika bis kami telah datang, aku akan buru-buru naik. Biasanya aku selalu naik lebih dulu sebelum dirinya. Aku takut ketinggalan bis. Dia yang selalu memakai rok panjang itu beberapa kali kulihat tampak kesulitan jika harus berjibaku naik saat penumpang sedang banyak. Aku sering ingin membantunya. Tapi aku canggung dan tidak tahu bagaimana cara menawarkan bantuan pada perempuan. Jadi biasanya kubiarkan saja dia naik dengan payah. Aku hanya memperhatikannya diam-diam walau sebenarnya kasihan juga. Apakah sikapku kasar? Sepertinya begitu. Itu menjadi bahan pikiranku selama beberapa hari. Aku mau bertanya pada teman kantorku, tapi malu. Akhirnya aku browsing internet dan menemukan artikel bahwa perempuan menyukai laki-laki yang gentle. Salah satu tanda kegentle-an adalah membantu perempuan ketika kesusahan. Oh jadi begitu rupanya. Jadi aku harus membantunya saat dia kesusahan. Hari berikutnya, ketika penumpang yang menunggu bis sedang sarat, aku naik lebih dulu. Aku sudah ambil ancang-ancang. Dia belakangan sambil menenteng kotak bekal makannya. Saat melihatnya kesulitan naik, kuulurkan tanganku untuk membantunya. Malikah mendongak menatap tanganku yang terulur, agak terkejut, kemudian tersenyum seperti senyum manisnya yang biasa itu, katanya: “Makasih mas. Insya Allah saya bisa sendiri.”. Aku pun patah hati.
Di minggu keempat dia ngekos, aku tidak menemukannya sedang memakai sepatu di depan kamarnya seperti yang selalu aku temui setiap pagi sebelum berangkat bekerja. Dia juga tidak ada di teras, dan tidak ada juga di pinggir jalan tempat kami biasa berdiri bersama. Seharian di kantor aku tidak tenang. Kemana gadis ribut itu? Aku baru sadar aku tidak punya nomer handphonenya. Aku tidak pernah minta. Dia memang punya nomerku karena pernah memintanya. Tapi kami tidak pernah smsan, telpon atau WhatsApp sehingga aku tidak menyimpan nomernya.
Ah sial. Pikiranku kemana-mana. Jangan-jangan dia sakit? Atau diculik? Kalau diculik itu salah dia. Jadi orang terlalu ramah. Aku uring-uringan tidak jelas sendiri. Wajahku yang biasanya murung, hari itu berubah mendung. Memang tidak terlalu jelas bedanya karena mirip-mirip saja. Tapi teman satu departemen denganku, Ahsan namanya, berhasil mendeteksi perbedaan itu. Ahsan ini memang bukan teman dekat. Dia juga tidak minat sebenarnya dekat-dekat denganku. Karena tuntutan pekerjaan saja makanya kami satu ruangan.
“Kenapa, Ang? Kusut amat mukanya.” Kata Ahsan sambil mengaduk kopi.
“Gapapa..” jawabku.
“Putus cinta yaa??” goda Ahsan.
Aku diam.
“Digantungin yaa?” nada suara Ahsan semakin jahil.
Aku tetap diam. Pura-pura sibuk dengan komputer.
“Lagi naksir yaa??” jleb, kali ini tepat sasaran.
Aku terpaku. Menghentikan aktivitas pura-pura sibuk. Diam tapi galau. Bingung harus bagaimana. Ahsan mendeteksi itu sebagai jawaban iya atas pertanyaan isengnya.
“Kalau benar kamu lagi naksir orang, itu kabar baik Ang. Artinya kamu normal. Asal naksirnya sama perempuan saja.” Ahsan tergelak. Aku meliriknya dengan kesal. Ahsan lalu menarik kursinya mendekat dan duduk di sampingku. Tampangnya berubah serius.
“Berapa umurmu sekarang, Angkasa Rajawali? 25? 26? Umur segitu laki-laki lain sudah pada punya pasangan masing-masing. Banyak yang sudah punya anak malah. Tapi lihat dirimu. Sori, tapi menurutku hidupmu terlalu membosankan. Kamu berangkat pagi-pagi, pulang malam-malam. Alasan apa kalau bukan karena tidak tahu harus apa dan bagaimana menghabiskan waktu di kosanmu? Kemana-mana sendirian. Makan sendiri, cuci baju dan nyetrika sendiri. Kamu butuh pendamping. Bukan maksudku istri itu mirip tukang masak dan tukang cuci ya, tapi laki-laki memang butuh perempuan dalam hidupnya. Perempuan bikin hidup kita lebih berwarna, Ang. Bikin laki-laki lebih punya tanggungjawab. Kamu harus membuka diri untuk sesuatu yang baru sekarang. Apalagi kamu juga sudah kerja lama. Penghasilanmu lumayan. Tunggu apa lagi?” Ahsan menceramahiku. Aku diam. Tapi telinga kupasang baik-baik. Sudah lama aku tidak mendapat wejangan tentang hidup. Kecuali wejangan pak bos minggu lalu yang marah-marah gara-gara target pekerjaan tidak maksimal. Terakhir kali aku dapat wejangan soal hidup adalah dari ibu, 3 tahun lalu.
Aku menghela napas sebagai respon untuk Ahsan. Ahsan melanjutkan ceramahnya, “Kamu naksir orang itu kabar baik. Itu langkah awal yang bagus sekali. Setelah itu jangan dilepas begitu saja. Harus kamu tindaklanjuti. Saranku, dekati dia. Coba cari tahu lebih banyak tentang dirinya. Aku ga menyarankan kamu untuk pacaran ya. Usiamu sudah hampir uzur. Baiknya langsung menikah saja. Lebih mantap.” Ahsan menepuk-nepuk pundakku. Dia menyeruput kopinya. Aku diam mendengarkan sarannya, ada benarnya juga.
“Ngomong-ngomong, cantik ga orangnya?” tanya Ahsan.
“Cantik..”
“Asli Bandung?”
“Surabaya..”
“Oh. Tinggal dimana?”
“Satu kos..”
Uhuk. Ahsan tersedak kopi. Kemeja biru mudaku kena semburannya. Rekan kerjaku itu batuk-batuk hebat beberapa saat. Dia memelototiku sambil bangkit dari kursinya. “Wah gila! Bener-bener udah gila! Pantesan kemarin-kemarin kamu ke kantor bawa botol minum pink. Ternyata..!” kemudian pergi meninggalkan ruangan. Aku duduk dengan bingung di tempatku. Kenapa dia?
Aku pulang ke kosan lebih cepat hari itu. Penasaran dengan kondisi si gadis ribut. Sebelum masuk dalam kamar, aku sempatkan mencuri pandang ke kamar Malikah. Ada sepasang sepatu lain selain sepatunya di depan pintu kamar. Aku mendengar suara 2 orang perempuan sedang bercakap-cakap. Aku sengaja berlama-lama di depan pintu untuk menguping. Pura-pura sedang mengetik sesuatu di handphone. Aku mendengar percakapan mereka.
“Buat makan malam mau dibelikan apa, Mal? Sekalian aku belikan pas mau pulang nanti.” Itu bukan suara Malikah.
“Aku pengen soto..” yang itu suara Malikah. Tapi suaranya kenapa lemah begitu?
“Oke nanti aku belikan abis magrib ini ya. Kamu makannya yang banyak, biar cepat sehat.”
Oh. Rupanya dia sedang sakit. Sakit apa? Kenapa?
“Aku kangen rumah..” kata Malikah pelan.
“Iyah. Kayaknya demam kamu itu karena homesick. Baru kali ini jauh dari rumah kan? Udah, harus dibiasain. Kamu ke Bandung juga kan tujuannya biar bisa lebih mandiri dan cari pengalaman baru.”
“Iyah..” jawab Malikah. Kemudian mereka kembali bercakap-cakap.
Oh. Demam karena kangen rumah. Aku masuk kamar dan meletakkan tas kerjaku sekenanya. Kemudian segera melesat keluar lagi.
Tidak berada lama, aku mengetuk pintu kamar Malikah pelan.
“Siapa?” tanya suara lain.
“Angkasa..”
Pintu kamar dibuka. Seorang gadis berkerudung muncul dari dalam kamar. Itu temannya. Aku mengangsurkan kresek hitam. “Buat Malikah..” kataku.
Temannya menerima kresek itu dengan tatapan bingung. “Apa ini, a’?” tanyanya dengan logat Sunda yang kental.
“Soto..” jawabku. Kemudian langsung menuju kamar. Di belakang aku dengar pintu kamar Malikah ditutup.
Besoknya, begitu aku keluar kamar untuk memakai sepatu dan berangkat kerja, Malikah mendadak muncul sambil menyodorkan botol minum ukuran sedang berwarna pink. Itu botol yang sama yang dulu diisinya dengan jus melon dan diberikan kepadaku sebagai bekal. Sudah kukembalikan botol itu padanya begitu pulang kantor, tanpa kucuci.
“Ini Energen buat sarapan di jalan.” Katanya riang. Wajahnya masih kuyu tapi suaranya tidak selemah kemarin sore. Aku menerima botol minumnya. “Makasih buat sotonya kemarin.” Sambung si gadis ribut. Aku mengangguk. Bersiap berangkat kerja. “Assalamualaikum. Hati-hati, mas!” dia berseru. Detik itu aku membatu di tempat. Jantungku jungkir balik. Hati-hati, mas? Dia bilang hati-hati, mas..? Aku menoleh ke belakang, ke arahnya, dan mendapati Malikah berdiri sambil tersenyum lebar. “Hati-hati..” ulangnya ramah. Aku mengangguk.
“Waalaikum salam..” kataku.
Hari-hari berikutnya Malikah sudah sehat kembali. Kami kembali sering berdiri bersama menunggu bis di pinggir jalan. Seperti biasa, ketika bis datang, aku naik duluan, dia belakangan. Aku tidak lagi berupaya menawarkan bantuan padanya. Sepertinya dia berusaha mandiri sebisa mungkin. Di kosan pun, kami tidak banyak bicara. Aku mulai pulang kerja lebih sore, tidak malam lagi seperti sebelumnya. Sore-sore ketika aku pulang, sesekali aku mendapatinya sedang ngobrol seru dengan beberapa teman perempuannya di dalam kamar. Mereka mengobrol dan tertawa dengan bersemangat. Tadinya kupikir telingaku akan bermasalah dengan semua keramaian itu. Tapi nyatanya tidak. Aku merasa baik-baik saja. Rupanya sedikit keramaian baik juga bagi pendengaran.
Di kantor, Ahsan sempat menjauhiku selama 2 hari. Hari ketiga karena keheranan dengan sikapnya, aku memberanikan diri untuk bertanya. Dan oh rupanya dia salah paham padaku. Dia pikir aku naksir dengan teman kos sesama laki-laki. Sebenarnya dia mulai curiga aku kurang waras gara-gara pernah membawa botol minum pink ke kantor. Setelah kujelaskan Ahsan kemudian ngakak sambil merangkul-rangkul pundakku.
“Alhamdulillah kamu masih normal, Ang. Alhamdulillah..! Aku harus sujud syukur. Aku udah takut aja harus seruangan terus denganmu kalau kamu sampai agak “belok”. Hahahahaha.” Dia tertawa geli. Aku diam saja.
“Nah tunggu apa lagi, Ang? Kalau menurutmu Malikah itu memang baik? Segera saja!” sejak saat itu hampir tiap hari Ahsan mengomporiku. Aku bukannya tidak memikirkan hal tersebut. Setiap hari juga aku memikirkannya. Aku sudah bekerja, penghasilanku lumayan, aku bisa menjaga diri dan menjaga orang lain kalau dibutuhkan. Jadi aku memang sudah siap. Yang mengkhawatirkan adalah Malikah-nya. Bagaimana kalau ternyata dia sudah punya calon suami? Atau ternyata dia tidak suka padaku? Kalau aku ditolaknya, maka itu akan jadi penolakan pertama dalam hidupku, dan pasti menyakitkan.
“Bagaimana kamu bisa tahu kalau tidak mencoba? Ayo maju saja! Laki-laki itu harus berani.” Provokasi Ahsan lagi. Aku juga sudah memikirkan itu. Kalimat Ahsan jadi bahan bakar penyemangat.
“Apa yang bikin kamu suka dia?” tanya Ahsan.
“Dia baik..” jawabku.
“Terus? Apalagi? Masa cuma itu?”
“Dan rajin sholat.. Dan baca qur’an..”
“Tahu darimana kamu dia rajin sholat dan baca qur’an?”
“Beberapa kali tidak sengaja melihat..”
“Oke baik. Kamu sudah ketemu alasannya. Aku bukan orang yang ahli agama, Ang. Tapi menurutku itu alasan yang bagus untuk menyukai seseorang. Lanjutkan bro!” Ahsan menepuk pundakku. Aku diam. Aku laki-laki, dan laki-laki harus bertanggung jawab atas segala perasaannya.
Maka pada suatu sore sepulang kerja, di minggu terakhir Malikah ngekos sebelum dia pindah ke kosan putri di depan, aku berdiri di depan pintu kamarnya. Mengetuk pintu itu pelan. Kepala berkerudung Malikah menyembul keluar dari pintu yang dibuka. Dia tersenyum lebar.
“Baru pulang kerja ya? Ada apa, mas?”. Tanyanya.
Aku diam 5 detik. “Saya mau tanya sesuatu..” kataku.
“Iya?” bola matanya membulat. Dia kelihatan semakin manis.
“Apa.. Malikah sudah punya calon suami..?” kalimat itu meluncur keluar begitu saja dari mulutku. Aku melihat Malikah tergagap. Antara kaget dan bingung. Dia diam beberapa detik. Aku menunggu dengan sabar. Oh ya, bahkan kalau harus berdiri menunggu di depan pintu kamarnya selama 4 bulan lagi juga aku akan sabar.
“Ng.. belum..” jawabnya terbata.
Ada jeda beberapa detik diam diantara kami. Kemudian aku berkata, kata-kata paling panjang yang aku keluarkan padanya selama 2 bulan dia tinggal di kos yang sama denganku ini: “Boleh minta nomer telepon ayah Malikah? Saya ingin meminta ijin pada beliau untuk melamar putrinya..”
Hening.
Malikah masuk ke kamarnya. Aku bingung. Apa aku ditolak?
10 detik kemudian gadis ribut yang sering bikin jantungku jungkir balik itu muncul lagi dengan selembar kertas berwarna pink di tangannya. Dia menyerahkan kertas itu padaku. “Ini mas, nomer telepon ayah dan alamat rumah saya. Saya sudah siapin kertas ini sejak sebulan lalu.. Sejak mas membelikan soto..” dia tersenyum penuh arti. Senyumnya manis sekali. Aku menerima kertas itu dan segera berlalu ke kamarku. Sebelum pergi, aku menoleh ke arahnya sebentar.
“Ditunggu ya..” kataku datar.
Malikah tersenyum sambil mengangguk penuh semangat. “Iyah.” Sahutnya.



Jatinangor. 31 maret 2014. 03.31 WIB

3 komentar:

  1. Bagus al ceritanyaaaaa.. manis. Berharap ada lanjutannya. Keep writing!

    BalasHapus
  2. aaa mbak alysa... Romantis bgt, minggu ini gak mau tau hrus ada lanjutannya *penasaran bgt*

    BalasHapus