Tidak ada seorang pun yang akan mau
punya hidup seperti hidupku. Membosankan, kata seorang teman dahulu. Yeah
sebenarnya dia bukan teman juga. Hanya seseorang yang kebetulan pernah dekat
sebentar akibat terpaksa satu kelompok tugas kuliah denganku di jurusan teknik
informatika. Dia mengatakan itu setelah selama satu semester harus sudi
sekelompok denganku karena kehabisan teman lain untuk diajak berkelompok tugas.
Dia mengatakannya sewaktu datang ke kamar kosku yang sederhana untuk
mengerjakan tugas algoritma pemrograman, pada suatu sore.
“Kamarmu
cuma ini isinya?” Andika mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarku. Isinya
memang tidak banyak. Selembar kasur tipis, sebuah rak buku 3 tingkat yang
isinya gabungan buku-buku kuliah dan buku bacaan lain yang kupunya, sebuah
lemari pakaian plastik 4 susun, meja lipat tempat laptopku bertengger, dan
sebuah galon di pojok kamar.
“Iya.”
Jawabku singkat dan datar. Kupersilahkan anak itu duduk di lantai yang tidak
berkarpet. Menghadap meja lipat kecilku.
Andika
mengalihkan pandangannya dari mengamati kamar dan menatap langsung ke mukaku. 2
menit dia menahan pandangannya seperti berpikir keras. Kemudian cowok berkaca
mata itu bicara dengan nada final yang putus asa: “Setelah hampir satu semester
bareng-bareng sama kamu, akhirnya aku mengambil kesimpulan. Sori kawan, tapi
hidupmu membosankan sekali.”
*****
Namaku
Angkasa. Angkasa Rajawali. Sebuah nama hebat pemberian kedua orang tua yang
sekarang sudah tidak ada dua-duanya. Ayahku meninggal ketika aku masih SMP dan
ibuku meninggal 3 tahun lalu, waktu aku baru bekerja setahun di kantorku yang
sekarang. Aku anak tunggal. Tidak punya kakak, tidak punya adik, dan jauh dari
sanak famili lain. Sudah 4 tahun ini aku merantau di Bandung. Jauh dari kota
kelahiran di Malang, Jawa Timur. Bekerja sebagai web developer sebuah
perusahaan yang cukup ternama. Sehari-hari aku berangkat ke kantor jam setengah
7 pagi dan baru kembali ke kosan malam hari. Sebenarnya waktu kerja sampai jam
5 sore. Tapi aku suka menghabiskan waktu di kantor sampai malam tiba. Tidak ada
apa pun yang menungguku di kamar sempit di pojok Cileunyi sana.
Hidupku
persis seperti kata temanku Andika, membosankan. Sejak kecil aku jarang punya
teman. Aku berangkat sekolah pagi hari, pulang siang hari, dan mendekam di
rumah hingga besok pagi lagi. Aku tidak punya banyak teman. Tidak banyak orang
yang mau berteman dengan anak yang biasa pindah-pindah sekolah sepertiku.
Pekerjaan ayah memang mengharuskan kami sekeluarga sering berpindah kota.
Karena sering berpindah-pindah itulah aku kurang luwes bergaul dengan orang
lain. Sebab baru sebentar tinggal di suatu tempat, baru akan beradaptasi dan
mencari teman, aku sudah harus pindah ke kota lain. Aku pendiam dan penakut.
Tidak adapatif dan akan memilih menjadi invisible man dimanapun aku berada.
Di
kantor pun demikian. Aku tidak suka tampil di depan umum. Pekerjaanku sebagai
web developer sangat mendukung hal ini. Sebab aku hanya perlu duduk diam di
depan perangkat kerja dan tidak harus berhadapan dengan banyak orang.
Sebenarnya aku mau berinteraksi dengan orang lain. Hanya saja aku sering tidak
tahu bagaimana caranya. Rasanya canggung dan kikuk jika harus memulai
pembicaraan lebih dulu. Karena itu aku memilih diam dalam segala bentuk
interaksi dengan orang lain. Lama-lama aku jadi akrab dengan tenang dan sunyi.
Aku
tinggal di sebuah rumah kos sederhana di daerah Cileunyi, Bandung Timur.
Lumayan jauh dari tempatku bekerja. Tinggal disana karena tempatnya cukup
nyaman, tenang, dan biaya sewanya relatif murah. Lagipula aku lebih banyak
menghabiskan waktu di kantor dibanding kamar. Kamar ini hanya sebagai tempat
tidur selepas pulang kerja. Ibu kosnya pun baik. Aku adalah penghuni kosan
paling lama. Kosan ini punya 5 kamar. Yang terisi 3.
Teman sebelah kamar
kosku adalah seorang mahasiswa geologi Unpad Jatinangor. Tinggi ceking. Kemana-mana
selalu pakai jaket fakultasnya yang orange terang dan seperti jaket anak gunung
itu. Orangnya kuduga punya indra keenam: punya kemampuan membaca pikiran orang
lain. Aku yang canggung ini pernah suatu kali lewat di depan kamar kosnya waktu
dia baru pindah kesini. Dalam hati aku bergumam, kenapa mahasiswa ini ngekos
jauh dari daerah kampusnya? Baru hatiku bergumam begitu, tiba-tiba kepalanya
muncul dari celah pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Senyum lebar bertengger
di bibirnya, dan dia menyapaku: “Halo bang, namaku Anggiat Siregar. Panggil saja
aku Giat. Aku semester 3 di geologi Unpad. Aku pindah kesini karena suntuk aku
sama lingkungan kampus itu. Rapat-rapat kali kosan disana. Banyak pula
orang-orangnya. Sesak napas aku bang, kalo lingkungan tempat tinggal terlalu
ramai. Jadi pindahlah aku kesini. Kosan ini aku dapat setelah hunting-hunting 4
hari. Tak apalah jauh dikit. Yang penting tenang suasananya.”
Aku
syok mendengar salam pembukanya yang panjang lebar, dan hanya mengangguk
sebagai responnya. Kemudian dia berkata lagi, “ Kenalan dulu lah kita, bang.
Abang siapa namanya?”.
“Angkasa...”
Jawabku.
“Wah
bagus kali nama abang. Gagah. Pasti dalam maknanya ya, bang. Ngomong-ngomong enaklah
kita ini, bang. Cuma sedikit orang yang kos disini. Jadi tentram suasananya.
Enak buat aku belajar, enak pula buat abang istirahat sepulang kerja. Kata ibu
kos abang kerja di perusahaan besar ya? Wah mantap itu. Kapan-kapan ajari aku
utak atik komputer ya bang. Aku tak terlalu bisa masalah komputer. Bisaku
nimbang-nimbang batu saja, hahaha. Maklum anak geologi.”
Detik
itu juga aku tahu kalau hari-hari damaiku di kosan ini tidak akan sama lagi seperti
sebelum si Batak itu datang.
Dan
nampaknya Giat selain punya kemampuan membaca pikiran, dia juga mampu meramal
masa depan. Dia nampaknya punya radar untuk tahu kapan aku lewat di depan
kamarnya untuk keluar atau masuk kosan,
dan dia sama sekali tidak canggung menyapaku panjang lebar. Dia seperti
tahu bahwa aku akan lewat disitu. Anak yang ramah memang. Mengimbangiku yang
susah berbicara. Tapi agak mengganggu juga sebab ketenangan selama beberapa
tahun kos disitu jadi terganggu oleh kehadirannya. Yah memang aku harus belajar
beradaptasi dengan lingkungan baru dimana ada seorang mahasiswa Batak jurusan
geologi yang hobi bicara tinggal tepat disebelah kamarku.
Selain
Giat, seorang penghuni kos lain adalah Satria. Pegawai kantoran juga sepertiku.
Pegawai bank. Anaknya lumayan baik, tidak terlalu banyak omong seperti Giat.
Layaknya aku, dia biasa pergi pagi pulang malam. Akhir pekan biasa
dihabiskannya dengan tidur ngorok seharian. Kalau sudah ngorok, bisa sampai
kedengaran ke kamarku.
Hari-hariku
selama ini berjalan layaknya rutinitas yang biasa. Hingga di suatu sore libur
yang kupakai untuk tidur seharian di kamar, sebuah suara gaduh terdengar persis
di depan kamarku. Di depan situ ada kamar kosong yang sudah hampir setahun
tidak diisi. Jarak kamar depan dengan kamarku sekitar 3 meter. Di
tengah-tengah, ibu kos meletakkan sebuah meja tempat biasa beliau membagi
penganan kecil dengan kami para penghuni kos. Aku mendengar suara kardus-kardus
yang dihempaskan ke lantai, suara benda berat yang digeser, suara
klontang-klanting entah apa, dan... suara perempuan. Suara perempuan??
Aku
menajamkan pendengaranku. Terdengar ibu kos sedang bercakap-cakap dengan suara
perempuan.
“Makasih
banyak ya ibu untuk bantuannya. Ibu jadi bantu angkat-angkat barang saya.”
Suara yang agak melengking, bernada ramah dan riang.
Ibu
kos menjawab, “Iya ga apa-apa. Ibu senang bisa bantu. Eneng kalo ada apa-apa
jangan sungkan ngomong ke ibu ya.”
“Iya
bu, pastinya. Terima kasih banyak ya bu.”
“Sama-sama,
neng. Ibu tinggal dulu ya. Eneng beres-beres atau istirahat aja.
Assalamualaikum.”
“Waalaikum
salam.”
Lalu
terdengar langkah kaki ibu kos menjauh. Aku terpaku di tempat tidurku. Ada perempuan di kos laki-laki? Pelan-pelan aku
bangkit dari tempat tidur menuju jendela. Bermaksud mengintip ke depan. Aku
penasaran. Baru aku menyibakkan sedikit tirai jendela, aku terkejut kaget dan
tersontak mundur mendapati sebentuk wajah dengan mata bulat penuh dibingkai
kerudung pink bertengger persis beberapa jengkal dari mukaku.
“Astaghfirullahal
adziim!” jeritnya.
“Astaghfirullahal
adziim!” seruku.
Kami
sama-sama terlonjak kebelakang. Sedetik kemudian aku mendengarnya tertawa
terbahak diluar sana. Aku melangkah ke pintu dan membukanya dengan penuh
keheranan. Mendapati sebentuk makhluk manis berkerudung pink berdiri di depan
kamarku sambil tertawa.
“Maaf
ya mas, maaf kalo bikin kaget.” Katanya riang. Tawanya masih tersisa. Aduh jantungku
jungkir balik. Kombinasi antara wajah manis berkerudung, tawa riang, dan suara
penuh semangat itu membuat waktu seakan terhenti beberapa detik di sekitarku.
Jantungku pindah tempat ke kerongkongan. Makhluk apa ini..?
Si
kerudung pink menatapku dengan bingung selama beberapa detik. Dia
melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku. “Mas? Masnya ga kenapa-kenapa
kan?” katanya. Aku tersadar dengan perasaan malu bukan main. Norak!, batinku
merutuk.
“Eh
eh iya.. Gak papa..” jawabku kikuk. Aku terdiam. Tidak tahu harus berkata apa
atau berbuat bagaimana. Canggung seperti biasa. Gadis dihadapanku itu tersenyum
manis dan berkata: “Kenalkan, saya Malikah. Selama 2 bulan kedepan saya akan
ngekos disini. Maaf ya kalo tidak nyaman ada perempuan di kosan laki-laki. Tadinya
saya mau ngekos di kosan putri yang depan sana. Tapi kamarnya masih penuh. 2
bulan lagi baru ada yang kosong. Sedangkan saya sudah harus kerja minggu depan.
Setelah muter-muter akhirnya ketemu sama ibu kos disini dan ditawarin ngekos
sementara di kosannya. Kata si ibu, memang kosan laki-laki tapi orangnya
baik-baik dan sopan. Jadilah saya mau. Tenang aja, saya ga bakalan ngapa-ngapain.
Oiya, saya dari Surabaya. Sebelumnya sempat kerja di Surabaya dan resign cari
kerjaan di Bandung. Alhamdulillah dapat. Salam kenal ya mas.”
Waw.
Aku mendengarkan penjelasan dengan bingung. Gadis ini perkenalan pertamanya
panjang sekali, Aku hanya mengangguk sebagai respon. Aku harus apa?
“Nama
masnya siapa?” tanya Malikah.
“Angkasa..”
jawabku.
“Angkasa?”
“Iya..
Angkasa.. Rajawali..”
“Wah
subhanallah. Keren banget namanya. Gagah. Kalau saya Malikah Putria. Saya punya
adik laki-laki lho di Surabaya. Namanya Malik Putra. Heheheh, ga kreatif ya
orang tua kami ngasih nama. Samaan gitu.” Terangnya sambil tertawa tanpa
kuminta. Aku hanya berdiri memandangnya dengan kikuk. Dia sedang bercanda? Harus
seperti apa menanggapi candaan seorang perempuan?
“Aduh
maaf ya mas, saya kebanyakan ngomong ya. Padahal tadi kesini rencananya cuma
buat kenalan aja, sekalian mau pinjam sapu. Saya belum beli sapu, mas.”
Aku
masuk ke dalam kamar dan keluar membawakan sapu untuknya. Malikah menerima sapu
itu sambil tersenyum. “Terima kasih ya mas. Pinjam bentar ya sapunya. Oiya,
jangan sungkan-sungkan lho mas kalo ada perlu apa-apa ke saya. Selama bisa
bantu, insya Allah saya bantu. Mari mas, saya ke kamar dulu.” Dia pun kembali
ke kamarnya.
Aku
menutup pintu kamarku. Selama 10 detik aku berdiri di tengah kamar dengan
ganjil. Pertama, bukankah aku yang seharusnya bilang ke dia jangan sungkan jika
butuh bantuan? Kan yang penghuni lama kosan ini aku. Kedua, kenapa jantungku
rasanya jungkir balik terus dari tadi gara-gara gadis itu? Ketiga, bagaimana jalan
hidupku 2 bulan kedepan bila ada makhlus manis nan banyak omong tinggal 3 meter
di depan kamarku, dan seorang mahasiswa yang juga tak kalah banyak omongnya
tinggal persis di sebelah tembokku? Aku menarik napas panjang. Sebelah kamar
ada si Batak. Di depan ada si kerudung pink. Aku merindukan kosanku yang
damai...
Tidak
berapa lama, terdengar suara berisik di depan kamar. Sepertinya Malikah
menyenggol sesuatu dan jatuh. Dia heboh sendiri mengatasi barang jatuh itu.
Ngomel-ngomel pada dirinya sendiri. Kemudian ada suara-suara lain, gedebak
gedebuk tanda benda-benda berat sedang diangkat dan dipindahkan. Lalu ada suara
barang jatuh kembali. Kuduga kali ini sebuah kaleng, karena bunyinya klontang keras
begitu. Lagi-lagi aku menarik napas. Gadis itu bisa bikin aku sakit jantung.
Sejak
saat itu, setiap pagi hendak berangkat ke kantor aku harus mewaspadai 2 orang.
Si Giat yang suka mencegatku minta diajari utak atik komputer, dan Malikah
dengan senyum lebarnya dan kerudungnya yang selalu berwarna permen. Tapi kalau
Giat aku tidak begitu khawatir. Sebab anak itu jarang bangun pagi jika tidak
ada kuliah pagi. Tapi Malikah, setiap pagi aku akan berpapasan dengannya di
pintu depan kosan. Sama-sama mau berangkat kerja. Dan tiap kali berpapasan
dengannya, jantungku rasanya mau pindah ke kerongkongan.
Dia bekerja sebagai editor
buku di sebuah penerbitan. Aku tidak pernah paham bagaimana seorang gadis yang
begitu ribut bisa punya pekerjaan sebagai editor yang harus penuh ketenangan
dan konsentrasi.
Kebiasaannya
adalah menyapaku lebih dulu.
“Hai, mas.”. “Assalamualaikum,
mas.”. “Pagi, mas.”
Ya memang selalu
begitu. Dan sapaannya selalu kujawab sekenanya. Lalu kami akan sama-sama
berdiri di pinggir jalan menunggu bis yang menuju arah Kalapa. Kadang dia
mengajakku ngobrol. Lebih sering kami berdiam diri. Mungkin dia capek juga
mengajakku berbicara.
Baru 3 minggu dia kos
disini tapi aku sudah hafal sebagian kebiasaannya. Setiap selasa dan jumat dia
akan menawariku sesuatu sebagai sarapan atau bekal. Entah itu roti bakar
buatannya, atau beberapa potong buah, atau seperti di minggu lalu, dia
memberiku sebotol jus melon yang botolnya berwarna pink bunga-bunga. Dia
membuatnya sendiri dan sengaja membotolkan 2 jus. Katanya memang khusus
diberikan kepada teman kosnya yang baik, yaitu aku. Mengapa menurutnya aku
baik? Sebab aku sudah meminjamkannya sapu di hari pertama ia ngekos. Malikah
mengatakannya sendiri padaku sewaktu kami sama-sama menunggu bis. Aku rasanya
mau terbang mendengar dia berkata begitu. Tidak banyak orang bersedia memujiku
baik.
Aku selalu salah
tingkah menghadapi si manis berkerudung itu. Dia baik hati sekali. Dan polos.
Dan banyak bicara. Dan ramai. Dan ribut. Selama 26 tahun hidupku yang
membosankan dan penuh rutinitas ini, aku tidak pernah bertemu makhluk yang
sangat unpredictable sepertinya. Dia begitu bersemangat. Tingkahnya sulit
ditebak. Tapi sangat manis dan hangat.
Jika bis kami telah
datang, aku akan buru-buru naik. Biasanya aku selalu naik lebih dulu sebelum
dirinya. Aku takut ketinggalan bis. Dia yang selalu memakai rok panjang itu
beberapa kali kulihat tampak kesulitan jika harus berjibaku naik saat penumpang
sedang banyak. Aku sering ingin membantunya. Tapi aku canggung dan tidak tahu
bagaimana cara menawarkan bantuan pada perempuan. Jadi biasanya kubiarkan saja
dia naik dengan payah. Aku hanya memperhatikannya diam-diam walau sebenarnya
kasihan juga. Apakah sikapku kasar? Sepertinya begitu. Itu menjadi bahan
pikiranku selama beberapa hari. Aku mau bertanya pada teman kantorku, tapi
malu. Akhirnya aku browsing internet dan menemukan artikel bahwa perempuan
menyukai laki-laki yang gentle. Salah satu tanda kegentle-an adalah membantu
perempuan ketika kesusahan. Oh jadi begitu rupanya. Jadi aku harus membantunya
saat dia kesusahan. Hari berikutnya, ketika penumpang yang menunggu bis sedang
sarat, aku naik lebih dulu. Aku sudah ambil ancang-ancang. Dia belakangan
sambil menenteng kotak bekal makannya. Saat melihatnya kesulitan naik,
kuulurkan tanganku untuk membantunya. Malikah mendongak menatap tanganku yang
terulur, agak terkejut, kemudian tersenyum seperti senyum manisnya yang biasa
itu, katanya: “Makasih mas. Insya Allah saya bisa sendiri.”. Aku pun patah
hati.
Di minggu keempat dia
ngekos, aku tidak menemukannya sedang memakai sepatu di depan kamarnya seperti
yang selalu aku temui setiap pagi sebelum berangkat bekerja. Dia juga tidak ada
di teras, dan tidak ada juga di pinggir jalan tempat kami biasa berdiri
bersama. Seharian di kantor aku tidak tenang. Kemana gadis ribut itu? Aku baru
sadar aku tidak punya nomer handphonenya. Aku tidak pernah minta. Dia memang
punya nomerku karena pernah memintanya. Tapi kami tidak pernah smsan, telpon
atau WhatsApp sehingga aku tidak menyimpan nomernya.
Ah sial. Pikiranku
kemana-mana. Jangan-jangan dia sakit? Atau diculik? Kalau diculik itu salah
dia. Jadi orang terlalu ramah. Aku uring-uringan tidak jelas sendiri. Wajahku
yang biasanya murung, hari itu berubah mendung. Memang tidak terlalu jelas
bedanya karena mirip-mirip saja. Tapi teman satu departemen denganku, Ahsan
namanya, berhasil mendeteksi perbedaan itu. Ahsan ini memang bukan teman dekat.
Dia juga tidak minat sebenarnya dekat-dekat denganku. Karena tuntutan pekerjaan
saja makanya kami satu ruangan.
“Kenapa, Ang? Kusut
amat mukanya.” Kata Ahsan sambil mengaduk kopi.
“Gapapa..” jawabku.
“Putus cinta yaa??”
goda Ahsan.
Aku diam.
“Digantungin yaa?” nada
suara Ahsan semakin jahil.
Aku tetap diam.
Pura-pura sibuk dengan komputer.
“Lagi naksir yaa??” jleb,
kali ini tepat sasaran.
Aku terpaku.
Menghentikan aktivitas pura-pura sibuk. Diam tapi galau. Bingung harus
bagaimana. Ahsan mendeteksi itu sebagai jawaban iya atas pertanyaan isengnya.
“Kalau benar kamu lagi
naksir orang, itu kabar baik Ang. Artinya kamu normal. Asal naksirnya sama
perempuan saja.” Ahsan tergelak. Aku meliriknya dengan kesal. Ahsan lalu
menarik kursinya mendekat dan duduk di sampingku. Tampangnya berubah serius.
“Berapa umurmu sekarang,
Angkasa Rajawali? 25? 26? Umur segitu laki-laki lain sudah pada punya pasangan
masing-masing. Banyak yang sudah punya anak malah. Tapi lihat dirimu. Sori,
tapi menurutku hidupmu terlalu membosankan. Kamu berangkat pagi-pagi, pulang
malam-malam. Alasan apa kalau bukan karena tidak tahu harus apa dan bagaimana
menghabiskan waktu di kosanmu? Kemana-mana sendirian. Makan sendiri, cuci baju
dan nyetrika sendiri. Kamu butuh pendamping. Bukan maksudku istri itu mirip
tukang masak dan tukang cuci ya, tapi laki-laki memang butuh perempuan dalam
hidupnya. Perempuan bikin hidup kita lebih berwarna, Ang. Bikin laki-laki lebih
punya tanggungjawab. Kamu harus membuka diri untuk sesuatu yang baru sekarang.
Apalagi kamu juga sudah kerja lama. Penghasilanmu lumayan. Tunggu apa lagi?”
Ahsan menceramahiku. Aku diam. Tapi telinga kupasang baik-baik. Sudah lama aku
tidak mendapat wejangan tentang hidup. Kecuali wejangan pak bos minggu lalu
yang marah-marah gara-gara target pekerjaan tidak maksimal. Terakhir kali aku
dapat wejangan soal hidup adalah dari ibu, 3 tahun lalu.
Aku menghela napas
sebagai respon untuk Ahsan. Ahsan melanjutkan ceramahnya, “Kamu naksir orang
itu kabar baik. Itu langkah awal yang bagus sekali. Setelah itu jangan dilepas
begitu saja. Harus kamu tindaklanjuti. Saranku, dekati dia. Coba cari tahu
lebih banyak tentang dirinya. Aku ga menyarankan kamu untuk pacaran ya. Usiamu
sudah hampir uzur. Baiknya langsung menikah saja. Lebih mantap.” Ahsan
menepuk-nepuk pundakku. Dia menyeruput kopinya. Aku diam mendengarkan sarannya,
ada benarnya juga.
“Ngomong-ngomong,
cantik ga orangnya?” tanya Ahsan.
“Cantik..”
“Asli Bandung?”
“Surabaya..”
“Oh. Tinggal dimana?”
“Satu kos..”
Uhuk. Ahsan tersedak
kopi. Kemeja biru mudaku kena semburannya. Rekan kerjaku itu batuk-batuk hebat
beberapa saat. Dia memelototiku sambil bangkit dari kursinya. “Wah gila!
Bener-bener udah gila! Pantesan kemarin-kemarin kamu ke kantor bawa botol minum
pink. Ternyata..!” kemudian pergi meninggalkan ruangan. Aku duduk dengan
bingung di tempatku. Kenapa dia?
Aku pulang ke kosan
lebih cepat hari itu. Penasaran dengan kondisi si gadis ribut. Sebelum masuk dalam
kamar, aku sempatkan mencuri pandang ke kamar Malikah. Ada sepasang sepatu lain
selain sepatunya di depan pintu kamar. Aku mendengar suara 2 orang perempuan
sedang bercakap-cakap. Aku sengaja berlama-lama di depan pintu untuk menguping.
Pura-pura sedang mengetik sesuatu di handphone. Aku mendengar percakapan
mereka.
“Buat makan malam mau
dibelikan apa, Mal? Sekalian aku belikan pas mau pulang nanti.” Itu bukan suara
Malikah.
“Aku pengen soto..” yang
itu suara Malikah. Tapi suaranya kenapa lemah begitu?
“Oke nanti aku belikan
abis magrib ini ya. Kamu makannya yang banyak, biar cepat sehat.”
Oh. Rupanya dia sedang
sakit. Sakit apa? Kenapa?
“Aku kangen rumah..”
kata Malikah pelan.
“Iyah. Kayaknya demam
kamu itu karena homesick. Baru kali ini jauh dari rumah kan? Udah, harus
dibiasain. Kamu ke Bandung juga kan tujuannya biar bisa lebih mandiri dan cari
pengalaman baru.”
“Iyah..” jawab Malikah.
Kemudian mereka kembali bercakap-cakap.
Oh. Demam karena kangen
rumah. Aku masuk kamar dan meletakkan tas kerjaku sekenanya. Kemudian segera
melesat keluar lagi.
Tidak berada lama, aku
mengetuk pintu kamar Malikah pelan.
“Siapa?” tanya suara
lain.
“Angkasa..”
Pintu kamar dibuka.
Seorang gadis berkerudung muncul dari dalam kamar. Itu temannya. Aku mengangsurkan
kresek hitam. “Buat Malikah..” kataku.
Temannya menerima
kresek itu dengan tatapan bingung. “Apa ini, a’?” tanyanya dengan logat Sunda
yang kental.
“Soto..” jawabku.
Kemudian langsung menuju kamar. Di belakang aku dengar pintu kamar Malikah
ditutup.
Besoknya, begitu aku
keluar kamar untuk memakai sepatu dan berangkat kerja, Malikah mendadak muncul
sambil menyodorkan botol minum ukuran sedang berwarna pink. Itu botol yang sama
yang dulu diisinya dengan jus melon dan diberikan kepadaku sebagai bekal. Sudah
kukembalikan botol itu padanya begitu pulang kantor, tanpa kucuci.
“Ini Energen buat
sarapan di jalan.” Katanya riang. Wajahnya masih kuyu tapi suaranya tidak
selemah kemarin sore. Aku menerima botol minumnya. “Makasih buat sotonya
kemarin.” Sambung si gadis ribut. Aku mengangguk. Bersiap berangkat kerja.
“Assalamualaikum. Hati-hati, mas!” dia berseru. Detik itu aku membatu di
tempat. Jantungku jungkir balik. Hati-hati, mas? Dia bilang hati-hati, mas..?
Aku menoleh ke belakang, ke arahnya, dan mendapati Malikah berdiri sambil
tersenyum lebar. “Hati-hati..” ulangnya ramah. Aku mengangguk.
“Waalaikum salam..”
kataku.
Hari-hari berikutnya
Malikah sudah sehat kembali. Kami kembali sering berdiri bersama menunggu bis
di pinggir jalan. Seperti biasa, ketika bis datang, aku naik duluan, dia
belakangan. Aku tidak lagi berupaya menawarkan bantuan padanya. Sepertinya dia
berusaha mandiri sebisa mungkin. Di kosan pun, kami tidak banyak bicara. Aku
mulai pulang kerja lebih sore, tidak malam lagi seperti sebelumnya. Sore-sore
ketika aku pulang, sesekali aku mendapatinya sedang ngobrol seru dengan
beberapa teman perempuannya di dalam kamar. Mereka mengobrol dan tertawa dengan
bersemangat. Tadinya kupikir telingaku akan bermasalah dengan semua keramaian
itu. Tapi nyatanya tidak. Aku merasa baik-baik saja. Rupanya sedikit keramaian
baik juga bagi pendengaran.
Di kantor, Ahsan sempat
menjauhiku selama 2 hari. Hari ketiga karena keheranan dengan sikapnya, aku
memberanikan diri untuk bertanya. Dan oh rupanya dia salah paham padaku. Dia
pikir aku naksir dengan teman kos sesama laki-laki. Sebenarnya dia mulai curiga
aku kurang waras gara-gara pernah membawa botol minum pink ke kantor. Setelah
kujelaskan Ahsan kemudian ngakak sambil merangkul-rangkul pundakku.
“Alhamdulillah kamu
masih normal, Ang. Alhamdulillah..! Aku harus sujud syukur. Aku udah takut aja
harus seruangan terus denganmu kalau kamu sampai agak “belok”. Hahahahaha.” Dia
tertawa geli. Aku diam saja.
“Nah tunggu apa lagi,
Ang? Kalau menurutmu Malikah itu memang baik? Segera saja!” sejak saat itu
hampir tiap hari Ahsan mengomporiku. Aku bukannya tidak memikirkan hal
tersebut. Setiap hari juga aku memikirkannya. Aku sudah bekerja, penghasilanku
lumayan, aku bisa menjaga diri dan menjaga orang lain kalau dibutuhkan. Jadi
aku memang sudah siap. Yang mengkhawatirkan adalah Malikah-nya. Bagaimana kalau
ternyata dia sudah punya calon suami? Atau ternyata dia tidak suka padaku?
Kalau aku ditolaknya, maka itu akan jadi penolakan pertama dalam hidupku, dan
pasti menyakitkan.
“Bagaimana kamu bisa
tahu kalau tidak mencoba? Ayo maju saja! Laki-laki itu harus berani.” Provokasi
Ahsan lagi. Aku juga sudah memikirkan itu. Kalimat Ahsan jadi bahan bakar
penyemangat.
“Apa yang bikin kamu
suka dia?” tanya Ahsan.
“Dia baik..” jawabku.
“Terus? Apalagi? Masa
cuma itu?”
“Dan rajin sholat.. Dan
baca qur’an..”
“Tahu darimana kamu dia
rajin sholat dan baca qur’an?”
“Beberapa kali tidak
sengaja melihat..”
“Oke baik. Kamu sudah
ketemu alasannya. Aku bukan orang yang ahli agama, Ang. Tapi menurutku itu
alasan yang bagus untuk menyukai seseorang. Lanjutkan bro!” Ahsan menepuk
pundakku. Aku diam. Aku laki-laki, dan laki-laki harus bertanggung jawab atas
segala perasaannya.
Maka pada suatu sore
sepulang kerja, di minggu terakhir Malikah ngekos sebelum dia pindah ke kosan putri
di depan, aku berdiri di depan pintu kamarnya. Mengetuk pintu itu pelan. Kepala
berkerudung Malikah menyembul keluar dari pintu yang dibuka. Dia tersenyum
lebar.
“Baru pulang kerja ya?
Ada apa, mas?”. Tanyanya.
Aku diam 5 detik. “Saya
mau tanya sesuatu..” kataku.
“Iya?” bola matanya
membulat. Dia kelihatan semakin manis.
“Apa.. Malikah sudah
punya calon suami..?” kalimat itu meluncur keluar begitu saja dari mulutku. Aku
melihat Malikah tergagap. Antara kaget dan bingung. Dia diam beberapa detik.
Aku menunggu dengan sabar. Oh ya, bahkan kalau harus berdiri menunggu di depan
pintu kamarnya selama 4 bulan lagi juga aku akan sabar.
“Ng.. belum..” jawabnya
terbata.
Ada jeda beberapa detik
diam diantara kami. Kemudian aku berkata, kata-kata paling panjang yang aku
keluarkan padanya selama 2 bulan dia tinggal di kos yang sama denganku ini:
“Boleh minta nomer telepon ayah Malikah? Saya ingin meminta ijin pada beliau
untuk melamar putrinya..”
Hening.
Malikah masuk ke
kamarnya. Aku bingung. Apa aku ditolak?
10 detik kemudian gadis
ribut yang sering bikin jantungku jungkir balik itu muncul lagi dengan selembar
kertas berwarna pink di tangannya. Dia menyerahkan kertas itu padaku. “Ini mas,
nomer telepon ayah dan alamat rumah saya. Saya sudah siapin kertas ini sejak
sebulan lalu.. Sejak mas membelikan soto..” dia tersenyum penuh arti. Senyumnya
manis sekali. Aku menerima kertas itu dan segera berlalu ke kamarku. Sebelum pergi,
aku menoleh ke arahnya sebentar.
“Ditunggu ya..” kataku
datar.
Malikah tersenyum
sambil mengangguk penuh semangat. “Iyah.” Sahutnya.
Jatinangor. 31 maret
2014. 03.31 WIB
Bagus al ceritanyaaaaa.. manis. Berharap ada lanjutannya. Keep writing!
BalasHapusaaa mbak alysa... Romantis bgt, minggu ini gak mau tau hrus ada lanjutannya *penasaran bgt*
BalasHapusInsya Allah yaah hehe :D
BalasHapus