Sabtu, 13 September 2014

Sedih

Harusnya hidup ga perlu sesedih itu kalo yang kita harepin cuma ridhonya Allah aja. Berharap sama makhluk, even itu orang terdekat, berpotensi besar untuk bikin kita marah, kecewa dan sakit hati. Yang paling enak sih jadi orang yang lempeng hidupnya. Lempeng dalam artian kalo sedih, dinikmatin aja sedihnya. Kalo senang, disyukurin aja senangnya. Ga banyak berharap sama kehidupan duniawi.

Klise sih mungkin nasehat ini, tapi kuncinya ya emang cuma 2: sabar sama syukur. Sabar untuk hal-hal yang kita pengenin tapi ga bisa kita dapetin. Syukur untuk hal-hal yang Allah takdirin jadi bagian hidup kita.

Kita disuruh sabar ga lama kok. Karena sabar itu adanya cuma di dunia. Sedangkan kampung halaman kita itu di akhirat. Kata ustadz 1000 tahun di dunia itu kayak 1 hari di akhirat. Jadi aslinya kalo kita disuruh bersabar di dunia, cuma sebentar doang sabarnya. Ga sampe 1 hari hitungan akhirat. Siapa coba hayo manusia yang umurnya sampai 1000 tahun? Bersabar sebentar untuk kenikmatan yang selama-lamanya. Selama-lamanya itu lama, cuy. Selama-lamanya itu ga ada ending. Itulah akhirat. Kalo dunia, sudah pasti ada endingnya.

Sedih kita di dunia pasti ada ending. Bahagia kita di dunia juga ada ending. Tapi yang pasti Allah ngelarang kita untuk sering-sering bersedih. Kebanyakan bersedih itu ga ada gunanya (kayak begadang, yang kalo terlalu banyak juga tiada artinya kata bang haji Rhoma Irama). Karena orang yang banyak sedih, peluang diganggu setan semakin besar. Setan akan ngegoda dia biar lalai dan jauh dari kebaikan-kebaikan. Itu lagi-lagi bukan kata saya. Itu kata Ibnul Qoyyim.

So, lagi sedih? Kecewa sama makhluk? Gapapa.. Manusiawi. Tapi respon kita harus tenang. Harus sabar. Woles aja. Hidup di dunia mah ga lama. Berikan kesabaran terbaik kita kepada Allah. Karena Allah sendiri yang memerintahkan begitu: bersabarlah dengan kesabaran yang paling indah :)

I Never Forget You



Dalam beberapa jenak hidup kita, akan ada orang-orang yang singgah di dalamnya. Menghabiskan waktu bersama, berbagi cita-cita, lalu tiba-tiba mereka pergi begitu saja. Hilang. Mendadak kita tidak lagi tahu jejak mereka. Mendadak mereka tidak mau lagi bersama kita. Mendadak kita didera rindu, pada hal-hal yang dulu pernah begitu mengesankan.

Kenapa kamu tidak lagi mau bersamaku..?

Beberapa teman pernah begitu lekat rasanya di hati. Saya menghabiskan tahun-tahun penuh idealisme yang membara bersama mereka. Kita muda, beda dan berbahaya. Awal-awal kuliah di Malang kita dekat, panas lagi membakar. Kita bicara soal kekolotan yang ingin kita ubah. Kita susun rencana, kita bikin “makar”, kita merasa kuat. Lalu mendadak, seperti datangnya yang menyengat, semua kebersamaan itu hilang. Tidak pelan-pelan. Tapi benar-benar hilang.

Kenapa kamu pergi begitu saja..?

Saya melanjutkan tahun-tahun terakhir kuliah tanpa mereka. Entah kenapa rasanya sedih sekali. Sampai hari ini. Mereka berubah. Ataukah saya yang melemah? Tapi saya tahu persis I’m on the track. Jadi kalau saya on the track, dimanakah mereka? Kita berpisah di persimpangan jalan. Saya meneruskan langkah itu, mereka mengambil jalan baru. Tapi saya selalu rindu. Tidak pernah tidak.

Jangan khawatir, cita-citaku masih seperti cita-cita kita dulu. Kalau nanti kamu mau kembali, kamu tahu dimana bisa menemukan aku.

*untuk sahabat.

Rabu, 10 September 2014

Tetap Setia, Tetap Sedia

Sembari pegel berdiri setengah jam lebih nungguin Damri buat balik ke Jatinangor tadi, Line di hape saya berbunyi klang klung klang klung. Sebuah kabar gembira datang: seorang adik kajian saya alhamdulillah udah dapat kerjaan.

Dia ini ceria anaknya. Senang cerita dan ketawa. Satu yang paling saya suka dari dia adalah suaranya yang asik banget. Suara cewek yang berat-berat gimana gitu. Renyah kayak kentang goreng. Kalo pas lagi ngisi kajian saya suka modus nyuruh dia jadi MC dadakan, semata demi mendengar suaranya yang bak Indy Barens itu, hehe.

Dia skripsian lumayan lama. Setahun lebih. Kuliahnya juga lumayan, 5 tahun. Disela-sela ngerjain skripsi, adik tersebut masih harus mengulang beberapa mata kuliah, dan mengurus organisasi. Qodarullah dia dapat dosen pembimbing dan penguji yang lumayan asoy. 2 kali sempat ngulang ujian karena ga lulus.

Lumayan lama kami ga ketemu karena satu dan lain hal. Saya cuma memantau perkembangannya secara masif, terstruktur, dan sistematis lewat update-annya di beranda Line. Kadang suka nyengir sendiri atas keekspresifannya saat update. Berasa ngaca. Bener kata teman saya dulu: binaan kita tuh mirip-mirip kita, hahaha.

Lalu ketika akhirnya berita terbaru darinya datang, saya langsung alhamdulillah berulang-ulang. Pasalnya, kurang dari sebulan setelah wisuda, si adik bersuara emas itu #halah #apadeh keterima kerja. Tanpa proses yang panjang ataupun melelahkan. Di perusahaan besar di Jakarta lagi. Bahagia dong saya. Apalagi kalau ingat gimana dia cerita-cerita sampai bercucuran air mata pada suatu sore yang mendung di bawah pohon rindang di depan fakultas waktu itu... #tsaah

Dapat kabar gembira begitu darinya bikin semangat saya untuk bangkit dan menumpas kejahatan membara kembali, hehehe. Setelah sebelumnya saya merenung dalam-dalam..

Allah itu Maha Adil. Selalu adil. Tidak pernah tidak. Apa yang ditakdirkanNya sulit bagi kita disatu sisi, pasti ditakdirkanNya pula untuk mudah pada sisi lainnya. Hanya seringkali kita terpaku pada sisi yang sulit itu saja. Sehingga melupakan bahwa Dia Maha Berkehendak, dan kehendakNya dapat bekerja tanpa bisa kita terka. Hari ini hidup boleh sulit, boleh rumit, boleh mengundang sembelit #lho. Tapi besok ada janji dari Dia untuk kemudahan yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Maka jangan pernah putus harapan selama hayat masih dikandung badan. Kita tetap setia, tetap sedia, mempertahankan In-do-ne-si-a... #malahnyanyi

Engga ada ruginya menjadi hamba beriman. Karena jika diberi kemudahan kemudian dia bersyukur maka itu baik baginya. Dan jika diberi kesulitan lalu bersabar maka itu juga baik baginya. Karena sesungguhnya sulit dan mudah itu sama saja. Yang paling baik adalah yang membuat kita semakin dekat dengan Allah Sang Maha Segala.

Senin, 08 September 2014

Menceracau Untuk Kesekian Kalinya

Pernah ga kamu merasa harus melakukan sesuatu tapi engga tahu kenapa ga bisa gerak untuk melakukan itu? Saya sedang mengalaminya.

Hari demi hari berlalu tanpa ada progres yang signifikan untuk tesis ini bikin saya laksana mati segan hidup tak mau. Pengalaman bimbingan yang seharusnya mencerahkan ternyata kurang bikin cerah hari-hari hehehe. Biasanya sehabis bimbingan bukannya jadi terang malah gelap. Kadang-kadang sampai gulita :D Akhirnya I try to solve my problem by my self. Baca buku, baca tesis, dan browsing jurnal jadi aktivitas sehari-hari di kosan. Kalau jenuh, saya nongkrong di perpus dari siang sampai perpusnya tutup. Ditemani camilan aneka ragam kayak gorengan atau biskuit sekalian nyari wifi gratis.

Udah seminggu lebih ga bimbingan. Deadline 1 bulan revisi terlewatkan sudah. Hari-hari kayak berlari di depan saya. Berkejaran sama akhir semester yang kian dekat. Konsekuensinya kalau belum selesai akhir januari adalah harus bayaran lagi. 10 juta melayang lagi. Dan makin jauhlah dengan sesuatu yang lain yang sedang ngejar-ngejar juga. Itu kamu, iyaa kamuu #halah #apacoba

Sampai akhirnya saya tiba di hari ini, dimana saya ngerasa udah lebih banyak bekal untuk bimbingan yang direncanain besok. Tapi mentoknya di judul. Klasik sih, tapi memang itu problem saya saat ini. Judul itu erat kaitannya sama fenomena yang diangkat. "Jadi masalahnya apa..?" itu yang PASTI bakal ditanya oleh semua dosen kalau fenomenanya ga kuat di latar belakang. Sehabis ujian bab 1 2 3 kemarin saya banyak banget revisinya. Bisa dibilang rombak 70% lah. Parah ya, hehehe. Nilai ujian aja cuma 68. Itu kurang 0.1 lagi saya ga lulus ujian.

Kalau di kosan kerjaannya bingung-bingung sendiri. Ga enak makan, ga enak tidur. Mau ngerjain, apa yang dikerjain? Tapi kalau bimbingan, takut berantakan lagi pikiran. Bukannya tercerahkan malah tambah ancur. Jadi saya ogah bimbingan kalau belum kuat betul. Saya ogah diacak-acak lagi. Udah pengalaman.. Susah tahu ngeberesinnya lagi. Sakitnya tuh di sini... *nunjuk otak*

Jumat, 05 September 2014

Buldoser Keras Hati



Konon katanya tangis yang paling menyedihkan adalah tangisan yang tidak mengeluarkan suara dan air mata. Begitu kata buku yang pernah saya baca. Well laki-laki paling ahli soal ini. Mereka itu ayam jago yang pemalu.

Konsekuensi dari menjadi seorang (calon) psikolog dimulai pada 5 menit pertama perkenalanmu dengan seseorang. Dimanapun kamu berkenalan dengan orang tersebut, begitu mereka tahu kamu mahasiswa psikologi, detik itu juga kamu harus siap mendengar apapun dari mereka. Orang-orang akan berharap sesuatu darimu: pencerahan dan kata bijak, misalkan. Atau sekedar duduk diam dan mendengarkan mereka bicara. Ekstrimnya, beberapa orang akan menyangka kamu laksana patung Dewi Kwan Im yang amat tabah mendengar segala keluh kesah. Walaupun yah, sebagian besarnya akan mengira kamu mirip-mirip cenayang alias paranormal, lalu mereka akan mengajukan pertanyaan paling mainstream sedunia: menurut kamu, aku orangnya gimana?

Sepotong takdir mengantarkan saya pada pertemuan dengan seorang bapak tinggi besar bertangan kokoh bergengsi tinggi. Suaranya menggelegar membahana, cocok dipakai sebagai pengganti TOA. Padangan matanya tajam menyelidik. Kerut-kerut di sudut matanya dan rahangnya yang tegas memperjelas kesannya yang seperti orang jahat.

Pertemuan tidak sengaja di kereta dalam perjalanan Bandung-Yogyakarta terjadi waktu saya dengan cerobohnya hampir patah leher gara-gara mau ketimpa ransel sendiri. Waktu mau menaikkan ransel 7 kilo itu ke kompartemen atas, saya kurang hati-hati. Akibatnya ransel berat itu mau jatuh. Alhamdulillah si bapak yang kebetulan juga sedang menaikkan ransel, dengan sigap menangkap ransel itu sebelum jatuh mematahkan leher saya. Suara menggelegarnya menyemprot saya: “hati-hati mbak!”. Glek. Saya nelan ludah. Syoknya dua: hampir ketimpa ransel, dan kena semprot bapak-bapak segede buldoser.

Rupanya bapak ini teman sebelah bangku saya. Selama hampir 3 jam berikutnya saya duduk sebelahan dan mendengarkan ceritanya yang mengalir panjang lebar. Waktu dia membuka percakapan dengan saya, saya sudah duga bapak ini keras dan tegas. Waktu dia mengangsurkan tangannya untuk salaman, yang saya balas dengan menangkupkan tangan depan dada lalu dia menarik tangannya kembali dengan kening berkerut, saya bisa melihat tangannya yang kokoh dengan urat-urat bertonjolan. Poin pertama. Oke, gw lagi berhadapan dengan seorang pekerja keras, batin saya bersiap-siap. Hehehe sori kebiasaan observasi sudah mendarah daging dalam diri. Akibat bersemester-semester kuliah tentang itu (lalu lulus dengan nilai B, hiks).

Well status sebagai mahasiswa psikologi akan membuatmu cenderung mudah mendengar apapun dari siapapun. Entah mengapa orang-orang akan mudah mempercayakan curhat mereka padamu hanya karena kamu seorang mahasiswa psikologi. Tidak butuh waktu lama bagi saya sampai kemudian bapak itu membuka ceritanya. Dibalik suara menggelegarnya, mata tajamnya, wajah kriminalnya (hehe) saya bisa menangkap kepedihan yang pekat dari ceritanya.

Persoalan rumah tanggalah yang mengantar si  buldoser keras hati ini menuangkan semua ceritanya pada saya di kereta sore itu. Dia seorang bapak dengan 5 orang anak yang pekerjaannya sebagai menejer distribusi perusahaan ekspedisi. Dia sedang dalam proses perceraian dengan istrinya. Masalahnya ada di titik ini: perceraian.

“Saya ga tahu istri saya maunya apa. Saya kerja keras banting tulang untuk menafkahi keluarga. Tapi dia merasa saya tidak pengertian dengan keluarga. Dia ingin saya begini dan begitu. Padahal anak kami 5, semuanya butuh biaya untuk sekolah. Saya kalau pulang ke rumah sudah dalam kondisi capek. Tambah pusing saya kalau tiap pulang istri kerjaannya marah-marah terus. Saya akui saya sering membentak dia, kadang di depan anak-anak. Anak-anak juga sering kena bentak saya. Bukan karena saya tidak sayang dengan mereka. Tapi saya orangnya memang begini. Pekerjaan saya menuntut saya untuk teliti dengan kerja anak buah. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Semua harus tepat waktu, harus sempurna. Karena kami ini perusahaan ekspedisi. Terlambat sedikit bisa fatal akibatnya. Saya akui situasi pekerjaan memang terbawa ke rumah. Karena sering bentak-bentak anak, anak saya pada takut semua sama saya. Kalau saya di rumah, mereka engga ada yang berani dekat-dekat. Kalau saya nonton tv, mereka pada mencar semua. Istri saya pernah bilang kalau anak-anak takut sama saya. Istri ingin saya berubah, tapi saya heran sama dia, berubah bagaimana maksudnya?! Kalau dia nuntut saya berubah, dia juga harus mau berubah. Lha dia sendiri sering jarang di rumah. Sibuk sama kerjaannya di kantor juga. Kok berani dia nuntut saya untuk fokus ke keluarga?!” menggelegar membahana suara buldoser ini ketika cerita. Tangannya terkepal. Saya sambil dengerin ceritanya sambil pasang kuda-kuda. Siapa tahu tanpa sadar dia ngelempar sesuatu, atau mencekik saya saking emosinya. Alhamdulillah di sekitar kami tidak ada pisau, gergaji, dan sejenisnya.

“Saya dan istri sering banget bertengkar. Hampir tiap hari. Puncaknya waktu 4 bulan lalu dia minggat ke rumah orang tuanya. Anak-anak dibawa semua. Cuma anak perempuan yang paling besar yang tinggal di rumah sama saya, itupun dengan terpaksa karena jarak kampusnya lebih dekat ke rumah kami dibanding rumah nenek mereka. Waktu istri nuntut cerai, saya syok. Ga nyangka sama sekali. Saya stres. Apa maksudnya mau pisah sama saya?! Saya udah biayain dia dan anak-anak selama ini. Kok tega dia ninggalin saya? 4 bulan ini hidup saya berantakan. Pikiran saya penuh. Di kantor banyak teman-teman yang tahu istri ajukan cerai. Istri saya ngember kemana-mana. Saya malu. Saya ini atasan, tapi bawahan pada ga hormat semua sama saya gara-gara urusan rumah tangga ini ketahuan. Mau ditaruh dimana muka saya?! Saya ga masuk kantor seminggu gara-gara malu. Tapi akhirnya tetap harus masuk kantor karena saya ga mau dipecat. 2 minggu lalu anak buah pada demo ke atasan. Kata mereka saya tambah kejam. Padahal kan saya hanya bersikap tegas, biar kerjaan lancar dan beres.”

“Kata istri saya ga cinta sama keluarga karena suka marah-marah. Siapa bilang?! Saya cinta sama anak-anak dan istri! Kalau ga cinta, ga akan jadi anak 5! Saya ga ngerti apa maunya istri. Selama istri minggat, rumah sepi. Saya tambah stres.” Bapak itu meraih botol air mineralnya dan minum dalam tegukan besar-besar. Saya mengamati raksasa keras kepala itu. Ah well, tipically man..

Poin kedua. Oke, gw lagi berhadapan dengan pekerja keras yang keras kepala dan tidak tahu caranya berhadapan dengan keluarga, batin saya.

“Saya sering tidak bisa tidur malam-malam karena mikirin urusan keluarga ini. Pusing kepala saya. Ga tahu mesti gimana.” Lanjutnya. Saya menimbang-nimbang, kalau saya bilang dia coba tahajud, kira-kira doi ngerti ga ya..?

“Saya sering mikir, apa salah saya sampai dapat cobaan hidup kayak gini?” Sambungnya lagi. Refleks saya berdehem, oh.. dia belum ngeh salahnya dimana..

“Jadi menurut mbak saya harus gimana?” matanya yang tajam memandang saya. Aah, mulai darimana yaa.
*****

Kami pun ngobrol.

Bapak itu diam sekian detik. “Gitu ya mbak..?”

“Insya Allah begitu pak.” Kata saya.
*****

Ah si bapak buldoser yang keras hati..

Ketika dia memutuskan untuk menikah dengan istrinya, seharusnya dia tahu dia akan menghabiskan sisa umur dengan istrinya itu. Mereka akan menua bersama. Jadi tidak ada yang salah dengan mencoba belajar bersikap lemah lembut. Itu bukan tanda kelemahan. Tidak ada yang salah juga dengan perubahan jika itu menuju kebaikan. Perubahan itu bukan tanda kekalahan.

Saya pikir bapak itu perlu merubah sudut pandangnya mengenai lemah dan kalah.
*****

Lalu kami berdua diam dalam sisa perjalanan itu. Saya membiarkannya berdiskusi dengan pikirannya sendiri. Kasihan ayam jago ini.. Tampangnya memang agak kriminal, suara menggelegar dan sikap kerasnya memang agak menakutkan, tapi sebenarnya dia baik. Dia cinta keluarganya. Dia hanya tidak tahu bagaimana cara terbaik mencintai mereka. Ketidaktahuannya melahirkan ketidakbahagiaan bagi dia dan keluarganya. Kesalahan dia adalah, tidak melanjutkan belajar tentang hidup. Dia memilih bertahan dengan sikap keras kepalanya. Padahal hidup akan jauh lebih mudah kalau dia terus belajar, bukan? Well itulah sebabnya kenapa ada istilah: tarbiyah madal hayah. Long life education. Belajar sepanjang hayat.

Tanpa sadar saya ketiduran. Terbangun beberapa jam kemudian karena ditowel-towel cleaning servis. Gerbong sudah sepi. Tinggal saya doang bersama petugas cleaning servis yang bawa-bawa tempat sampah. Si bapak sudah turun duluan. Mm, saya lupa namanya... Dia ga bangunin saya??

Saya sering ketemu banyak orang dengan beragam cerita dalam perjalanan-perjalanan. Entah itu di kereta, pesawat, bis, bahkan angkot. Dari mereka kita (seharusnya) bisa mengambil banyak pelajaran.


*ketika selesai mengetikkan ini jelang magrib di Moby Cafe (yang wifi-nya ga nyala) saya ingat hal penting: there’s a lot of things you have to learn before take that responsibility. One simple decision will change your life, maybe the whole. That will leads you to happiness, or miserables.

Pas mau cabut dari Moby, refleks saya lirik folder tesis: aiiih kamu lagiii. Kapan kelarnya siiih -___-“

On The Track

"Saya sedang ada di jalan yang benar. I'm on the track."
Itu saja yang sebenarnya saya butuhin untuk tahu: apakah saya sedang berada di jalan yang benar?

Sekian bulan ini saya kerap merasa hilang arah. Ga tahu harus ngapain. Ga tahu harus memulai darimana. Bahkan ga tahu apakah saya benar atau salah. Apakah yang saya kerjakan ini bermanfaat, berefek baik, atau sia-sia belaka?

Saya butuh diberitahu dimana salah saya dan apa yang kurang sehingga harus saya benahi. Saya ga dapat itu dari mereka yang punya andil untuk membantu. Padahal mereka erat banget hubungannya dengan proses yang lagi saya ikhtiarin saat ini. Capek juga ternyata diberi banyak informasi tanpa arti. Useless. Ga guna. Mungkin ini lebay, tapi saya merasa ditinggal sendirian gelap-gelapan..

Bisa dibilang ini mungkin saat-saat saya ngerasain banget sebenar-benarnya tempat segala hanyalah Dia. Yah saya udah ngerti teori itu sejak dulu. Tapi aplikasinya baru terasa saat ini. Saat saya berharap bantuan, ternyata makhluk engga banyak ngasih bantuan. Saat saya berharap pengertian, ternyata makhluk engga banyak yang mengerti. Tapi saya sungguh engga marah dengan mereka.. Apalah kita ini.. Hanya manusia biasa, bukan malaikat yang lagi rehat di pelataran bumi.

Semakin hari saya semakin jatuh hati dengan Dia, tempat saya biasa nangis-nangis hingga bengkak mata gara-gara sempit dada karena dunia.

Dan dari momen ini saya belajar banyak.

Memang benar hanya Tuhan Semesta Alam tempat kita bergantung. Memang benar hanya Dia yang tengga pernah meninggalkan. Dan manusia hanyalah medan tempat cinta kita mengejawantah. Tapi itu engga boleh jadi alasan bagi saya kelak untuk meninggalkan begitu saja orang-orang dalam hidup saya yang sedang membutuhkan bantuan.  Meninggalkan mereka hanya karena saya pun sibuk dengan persoalan saya pribadi. Saya harus menolong, membantu, memahami, dan berempati dengan orang yang butuh bantuan. Hati saya harus peka dengan permintaan minta tolong yang tidak disampaikan orang-orang lain, entah karena mereka malu, atau tidak tahu. Saya harus meolong orang lain karena Allah memerintahkan begitu. Karena dengan menolong itulah saya berharap mengais sedikit-sedikit pahala dan amal sholeh. Berharap sedikit-sedikit terkikis sekian dosa yang engga bisa hilang kecuali dengan menolong orang lain. Aamiin.

Apa saya mendewasa akhir-akhir ini? Engga tahu yah. Yang pasti saya menua.